PROSES AFIKSASI

 Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar (Chaer, 2012:177). Dalam proses ini terlihat unsur-unsur; (1) dasar atau bentuk dasar, (2) afiks, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan. 

Bentuk dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar, yakni bentuk terkecil, yang tidak dapat disegmentasikan lagi, misalnya, meja, beli, makan, dan sikat. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah kata dasar dalam pembentukan kata. Afiksasi atau pengimbuhan sangat produktif dalam pembentukan kata, hal tersebut terjadi karena bahasa Indonesia tergolong bahasa bersistem agltinasi. Sistem aglutinasi adalah proses dalam pembentukan unsur-unsurnya dilakukan dengan jalan menempelkan atau menambahkan unsur selainnya. Salah satu bentuk kesalahan bahasa yang terjadi yaitu pembentukan kata dengan imbuhan atau afiksasi. 

Proses pembentukan kata melalui afiks (imbuhan), pada umumnya sangat berpotensi mengubah makna dan bentuk kata dasar. Seperti yang dapat dilihat pada kata-kata berikut: makan, cuci, kerja, dan sebagainya. Jika kata-kata tersebut mendapat imbuhan afiks menjadi memakan, pemakan, dimakan, termakan, dan sebagainya, tidak berbeda juga dengan kata cuci dan kerja. Selain bentuk kata yang berubah juga mengakibatkan makna kata tersebut berubah. Jadi, proses pembubuhan afiks atau afiksasi sangat penting dan memerlukan ketelitian. Karena jika salah, maka bentuk dan maknanya menjadi tidak komunikatif atau tidak termaknai dengan benar oleh pembaca atau pendengar.


Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya, dibedakan adanya dua jenis afiks, yaitu afiks inflektif dan afiks derivatif. Yang dimaksud dengan afiks inflektif adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional. Misalnya, dalam bahasa Indonesia dibedakan adanya prefiks me- yang inflektif dan prefiks me- yang derivatif. Sebagai afiks inflektif prefiks me- menandai bentuk kalimat indikatif aktif, sebagai kebalikan dari prefiks di- yang menandai bentuk indikatif pasif. Sebagai afiks derivatif, prefiks me- membentuk kata baru, yaitu kata identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya. Misalnya, terdapat pada kata membengkak yang berkelas verba dari dasar adjektifa; atau mematung yang berkelas verba dari dasar nomina (Chaer, 2012:177). 

Afiksasi adalah proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan afiks bentuk dasar atau juga dapat disebut sebagai proses penambahan afiks atau imbuhan menjadi kata. Hasil proses pembentukan afiks atau imbuhan itu disebut kata berimbuhan. 

Samsuri (1994:190) menjelaskan bahwa proses afiksasi itu adalah penggabungan akar atau pokok dengan afiks. Misalnya pembubuhan afiks meN- pada bentuk dasar baca menjadi membaca, pada bentuk dasar karang menjadi mengarang, dan lain-lain. Disamping dapat menempel pada bentuk dasaryang bermorfem tunggal atau disebut monomorfemis, afiks juga dapat membubuhkan diri pada benuk dasar yang bermorfem lebih dari satu mofem atau polimorfemis. Misalnya, pembubuhan afiks ber- pada betuk dasar satu padu, sehingga menjadi bersatu padu; pembubuhan afiks me-N pada bentuk dasar babi buta, sehingga menjadi membabi buta. Dalam bahasa Indonesia, dengan bantuan afiks kita akan mengetahui kategori kata, diastatis aktif atau pasif, tetapi tidak diketahui bentuk tunggal dan jamak dan waktu kini serta lampau. Afiks dalam bahasa Indonesia terdiri dari prefiks (terletak pada awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), konfiks (gabungan prefiks dan sufiks), interfiks, transfiks, superfiks serta simulfiks.

  1. Prefiks (awalan) Prefiks adalah proses afiksasi dimana afiksnya terletak pada awal kata bentuk dasar. Prefiks dapat muncul bersama dengan sufiks atau afiks lain. Misalnya, prefiks ber- bersama sufiks –kan pada kata berdasarkan, prefiks medengan sufiks –kan pada kata mengiringkan, prefiks ber- dengan infiks –em- dan sufik –an pada kata bergemetaran. Contoh prefiks: meN-, di-, ber-, ke-, ter-, se-, peN-, pe- atau per-.
  2. Infiks (sisipan) Infiks adalah proses pembentukan kata dengan menambah afiks atau imbuhan di tengah bentuk dasarnya. Dalam bahasa Indonesia jumlah infiks sangat terbatas, hanya ada tiga infiks. Diantaranya, infiks –el- pada kata telunjuk, infiks – em- pada kata gemetar, dan infiks –er- pada kata gerigi. Contoh infiks: -el-, -em-, -er-.
  3. Sufiks (akhiran) Sufiks adalah proses afiksasi yang terletak pada posisi akhir bentuk dasar. Menurut Putrayasa, sufiks adalah morfem terikat yang diletakkan di belakang suatu bentuk dasar dalam membentuk kata. Umpamanya dalam bahasa Indonesia, sufiks –an pada kata bagian, dan sufiks –kan pada kata bagikan. Contoh sufiks: -an, -kan, -i, -nya. 
  4. Konfiks (gabungan prefiks dan sufiks) Konfiks adalah gabungan afiks yang berupa prefiks (awalan) dan sufiks (akhiran) yang merupakan satu afiks yang tidak terpisah-pisah. Artinya, afiks gabungan itu muncul secara serempak pada morfem dasar dan bersama-sama membentuk satu makna gramatikal pada kata bentukan itu (Keraf, 1984:115). Contoh konfiks: peN-an, per-an, ke-an, ber-an (ada yang bukan konfiks), ber-kan, dan per-kan. 
  5. Simulfiks Menurut Kridalaksana, simulfiks adalah afiks yang dimanifestasikan dengan ciri-ciri segmental yang dileburkan pada bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesi simulfiks dimanifestasikan dengan nasalisasi dari fonem pertama suatu bentuk dasar dan fungsinya ialah memverbalkan nomina, adjektifa, atau kelas kata lain. Contoh terdapat dalam bahasa Indonesia tidak baku: kopi – ngopi, soto – nyoto, sate – nyate, kebut – ngebut, tulis – nulis, tembak – nembak.
  6. Interfiks Interfiks adalah sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur. Kata interfiks berasal dari bahasa Latin inter yang berarti berada di antara, dan fixus yang berarti melekat. Dengan demikian, dapat dibedakan dengan infiks yang berarti melekat di dalam. Interfiks banyak dijumpai dalam bahasa-bahasa Indo German. Sedangkan dalam bahasa Indonesia interfiks tidak ditemukan. Untuk bahasa Inggris dapat dianggap memiliki interfiks karena pengaruh bahasa Latin. Contohnya interfiks –o- dalam kata morphology. Morph dan logy memiliki lema tersendiri dalam kamus Webster’s New World. Gabungan kedua kata ini memerlukan interfiks –o- sehingga gabungannya bukan morphlogy melainkan morphology. Istilah morfologi dalam bahasa Indonesia tidak dapat dianggap memiliki interfiks –o- karena hanya kata morf yang ada dalam lema KBBI, tidak ada lema logi. 
  7. Transfiks. Dalam bahasa Latin trans berarti disepanjang (across) atau di atas (over). Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tidak memiliki transfiks. Afiks yang termasuk transfiks dapat ditemukan dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Arab ini dasar biasanya berupa konsonan-konsonan, dan berisi tiga konsonan, seperti k-t-b ‘tulis’ dan d-r-s ‘belajar’. Maka transfiks itu diimbuhkan ke dalam konsonankonsonan itu. Contoh: katab ‘dia laki-laki menulis’ daras ‘dia laki-laki belajar’
  8. Superfiks atau Suprafiks Superfiks atau suprafiks adalah afiks yang dimanifestasikan dengan ciriciri suprasegmental atau afiks yang berhubungan dengan morfem suprasegmental. Afiks ini tidak ada dalam bahasa Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), Akar, dan Leksem

FILSAFAT BAHASA

FUNGSI DAN PERANAN ORGANISASI ASOSIASI KEPROFESIAN