Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), Akar, dan Leksem

 Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna (Chaer, 1994: 146). Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan yang tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil; misalnya (ter-), (di-), (pensil), dan sebagainya adalah morfem (Kridalaksana, 1993: 141). Morfem adalah kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan yang dapat dibedakan artinya (Keraf, 1984: 52).

Morfem dasar, bentuk dasar (lebih lazim dasar (base) saja), pangkal (stem), akar, dan leksem adalah lima istilah yang lazim digunakan dalam kajian morfologi. Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Jadi, bentuk-bentuk seperti {beli}, {juang}, dan {kucing} adalah morfem dasar ini ada yang termasuk morfem bebas seperti {beli}, {kucing}, dan {pulang}; tetapi ada pula yang termasuk morfem terikat, seperti {juang}, {henti}, dan {tempur}. Sedangkan morfem afiks seperti {ber-}, dan {-an}. Jelas semuanya termasuk morfem terikat.

Sebuah morfem dasar dapat menjadi bentuk dasar atau dasar (base) dalam suatu proses morfologi. Artinya, dapat diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, dapat diulang dengan proses reduplikasi, atau dapat digabung dengan morfem yang lain dala suatu proses komposisi atau pemajemukan.

Istilah bentuk dasar atau dasar (base) biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suau proses morfologi. Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal, tetapi dapat juga berupa gabungan morfem. Umpamanya pada kata berbicara yang terdiri dari morfem {ber-} dan morfem {bicara}; maka morfem {bicara} adalah menjadi bentuk dasar dari kata berbicara itu, yang kebetulan juga berupa morfem dasar. Pada kata dimengerti bentuk dasarnya adalah mengerti, dan pada kata keanekaragaman bentuk dasarnya adalah anekaragam.Pada bentuk reduplikasi rumah-rumah bentuk dasarnya adalah rumah, pada bentuk reduplikasi berlari-lari bentuk dasarnya berlari, dan pada bentuk reduplikasi kemerah-merahan bentuk dasarnya adalah  kemerahan. Lalu, pada komposisi sate ayam bentuk dasarnya adalah sate, pada komposisi ayam betina bentuk dasarnya ayam, dan pada komposisi pasar induk bentuk dasarnya adalah pasar. Jadi, bentuk dasar adalah bentuk yang langsung menjadi dasar  dalam proses morfologi. Wujudnya dapat berupa morfem tunggal, dapat juga berupa bentuk polimorfemis.

Istilah pangkal atau stem digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses pembentukan kata inflektif, atau pembubuhan afiks inflektif. Hal ini terutama terjadi pada bahasa-bahasafleksi, seperti Arab, bahasa Itali, bahasa Jerman, dan bahasa Prancis. Dalam bahasa Indonesia proses pembetukan kata inflektif hanya terjadi pada proses pembentukan verba transitif, yakni verba yang berprefiks me- (yang dapat diganti dengan di-, prefiks ter-, dan prefiks Zero). Misalnya kata membelipangkalnya adalah beli, pada kata mendaratkan pangkalnya adalah daratkan, dan pada kata menangisi pangkalnya adalah bentuk tangisi.

Istilah akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebh jauh lagi. Artinya, akar adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya ditinggalkan. Misalkan pada kata memberlakukan setelah semua afiksnya ditinggalkan (yaitu prefiks me-, prefiks ber-, dan sufiks –kan) dengan cara tertentu, maka yang tersisa adalah akar laku. Akar laku ini tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi tanpa merusak makna akar tersebut. Contoh lain, kata keberterimaan kalau semua afiksnya ditinggalkan akan tersisa akarnya yaitu bentuk terima. Bentuk terima ini pun tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.

Istilah leksem ada digunakan dalam dua bidang kajian linguistik, yaitu bidang morfologi dan bidang semantic. Dalam kajian morfolohi leksem digunakan untuk mewadahi konsep “bentuk yang akan menjadi kata” melalui proses morfologi. Umpamanya bentuk PUKUL (dalam konvensi ‘morfologi’ leksem ditulis dengan huruf kapital semua) adalah sebuah leksem yang akan menurunkan kata-kata yang seperti memukul, dipukul, terpukul, pukul, pukulan, pemukul, dan pemukulan. Sedangkan dalam kajian semantic leksem adalah satuan bahasa yang memiliki sebuah makna. Jadi, bentuk-bentuk seperti kucing, membaca, matahari, membanting tulang, dan sumpah serapah adalah leksem.

Comments

Popular posts from this blog

FILSAFAT BAHASA

FUNGSI DAN PERANAN ORGANISASI ASOSIASI KEPROFESIAN