Kriteria Klasifikasi Kata
Secara tradisional dikenal adanya kata-kata yang termasuk kelas verba, nomina, ajektifa, adverbia, numeralia, preposisi, konjungsi, pronomina, artikula, dan interjeksi (Sumber : Alisyahbana 1954; Mees 1956; dan Hadidjaja 1958).
Setidaknya kalau kita membicarakan kelas kata itu, pertama-tama harus dibedakan dulu antara kelas-kelas terbuka dan kelas tertutup. Kelas-kelas terbuka adalah kelas yang keanggotaannya dapat bertambah atau berkurang sewaktu-waktu berkenaan dengan perkembangan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat penutur suatu bahasa.
Yang termasuk kelas terbuka adalah kata-kata dalam kelas verba, nomina, dan ajektifa. pada kelas verba bahasa Indonesia dulu belum ada kata-kata seperti menggalakkan, memonitor, dan tereliminasi; tetapi sekarang kata-kata seperti itu sudah ada. Pada kelas nomina bahasa Indonesia dulu belum ada kata-kata seperti komputer, sinetron, dan pembenaran; tetapi sekarang kata-kata seperti itu sudah banyak titik demikian juga kata-kata dari kelas ajektifa.
Berbeda halnya dengan kata-kata dari kelas tertutup, yaitu yang termasuk pronomina, adverbia, preposisi, konjungsi, dan artikula, yang jumlahnya sejak dulu tidak pernah bertambah. Yang dari kelas tertutup ini pun boleh dikatakan tidak pernah menjadi dasar dalam suatu proses morfologis. Sebaliknya yang termasuk kelas terbuka dapat menjadi dasar dalam proses morfologis.
Anggota dari ketiga kelas terbuka ini, yaitu nomina, verba, dan ajektifa dapat dilihat karakternya, serta dapat diperbandingkan satu sama lain dari anggota kelas adverbia yang dapat mendampingi anggota ketiga kelas utama tersebut. Anggota kelas adverbia itu menyatakan makna atau konsep negasi, frekuensi (kekerapan), jumlah, komparasi, kala (tenses), perfeksi (keselesaian, keharusan, dan kepastian. Anggota adverbia mana yang dapat dan tidak dapat mendampingi ketiga kelas nomina tersebut bisa dilihat pada beberapa penjelasan berikut ini :
Pertama, kata-kata dari kelas nomina tidak dapat didampingi oleh adverbia frekuensi, adverbia derajat, adverbia kala, adverbia keselesaian. Namun, dapat didampingi oleh adverbia jumlah (kuantitas). Juga dapat didampingi oleh adverbia negasi bukan dan tanpa. Sementara itu dapat juga didampingi oleh adverbia keharusan boleh dan harus, serta adverbia kepastian; tetapi dengan persyaratan kalimat tersebut adalah sebagai kalimat jawaban. Contohnya, untuk pertanyaan "Kamu mau makan apa?", jawabannya dapat "Boleh gado-gado" atau "Harus ayam bakar". Untuk pertanyaan "Siapa yang mengambil uang saya?", jawabannya dapat "Pasti dia", "Tentu dia", "Mungkin dia", atau "Barangkali dia".
Kedua,
kata-kata dari kelas verba dapat didampingi oleh adverbia negasi tidak dan
tanpa; oleh adverbia frekuensi sering dan jarang; oleh adverbia jumlah banyak,
sedikit, kurang dan cukup; oleh adverbia kala (Tenses), adverbia keselesaian,
adverbia keharusan, dan adverbia kepastian. Dapat didampingi oleh adverbia
negasi bukan, tetapi dengan persyaratan yaitu digunakan dalam konstruksi
berkontras, misalnya :
-
Dia bukan menyanyi, melainkan berteriak-teriak.
-
Saya bukan memukul, tetapi dipukul.
Selain
itu, dapat kita lihat pula bahwa kata-kata berkelas verba tidak dapat
didampingi oleh adverbia derajat, dan kata bilangan (satu, dua, dst.) yang
disertai dengan kata penggolongannya.
Ketiga,
kata-kata dari kelas ajektifa dapat didampingi oleh semua adverbia derajat,
semua adverbia ke selesaian, dan semua adverbia kepastian. tetapi tidak dapat
didampingi oleh adverbia keharusan, adverbia frekuensi, dan adverbia jumlah.
Sementara itu kata-kata dari kelas ajektifa ini dapat juga didampingi oleh
negasi bukan, tetapi dengan persyaratan, yaitu dalam konstruksi berkontras.
Misalnya :
-
Warnanya bukan merah, melainkan oranye.
Lalu,
kita lihat juga kata-kata dari kelas ajektifa ini dapat didampingi oleh
adverbia kala (Tenses) sudah, sedang, lagi, dan akan; tetapi tidak dapat
didampingi oleh adverbia tengah, hendak, dan mau. Hal ini terjadi karena
komponen makna yang dimiliki oleh kata-kata adverbia itu agak berbeda.
Secara
umum berdasarkan keterangan diatas ciri yang membedakan ketiga kelas nomina, verba,
dan ajektifa, yang membedakan satu sama lain adalah, bahwa kata-kata dari kelas
nomina (N) tidak dapat didampingi oleh negasi tidak padahal kata-kata dari
kelas verba dan ajektifa dapat. Sedangkan kata-kata dari kelas verba dapat
didampingi oleh adverbia frekuensi sering, padahal kata-kata dari kelas nomina
dan ajektifa tidak dapat. sebaliknya kata-kata dari kelas ajektiva dapat
didampingi oleh adverbia derajat agak, padahal kata-kata dari kelas nomina dan
verba tidak dapat.
Secara
lebih khusus ketiga kelas itu akan dibicarakan pada subbab berikut.
a) Klasifikasi
kata kelas terbuka
1) Nomina
Nomina atau kata benda
memiliki ciri utama dilihat dari adverbia pendampingnya.
1. Tidak dapat didahului oleh adverbia negasi tidak.
Misal, kata-kata kucing, rumah, tas, mobil, dan baju adalah
termasuk nomina, karena tidak dapat didahului oleh adverbia negasi tidak.
Jadi tidak mungkin susunan kata-katanya menjadi tidak kucing, tidak rumah,
tidak tas.
2. Tidak dapat didahului oleh adverbia derajat agak
(lebih, sangat, dan paling). Seperti contoh berikut : agak kucing, agak
tas, atak mobil.
3. Tidak dapat didahului oleh adverbia keharusan wajib.
Seperti contoh berikut : wajib kucing, wajib rumah, wajib baju.
4. Dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan
jumlah, seperti satu, sebuah, sebatang, dan sebagainya. Misalnya : sebuah tas,
satu mobil, sebatang korek api.
Dilihat dari segi
semantik, khususnya dari komponen makna utama yang dimiliki kata-kata kelas
nomina dapat dibedakan atas sebelas tipe, yaitu:
Tipe pertama, memiliki
komponen makna [+orang]. Tipe pertama ini terbagi lagi atas 6 subtipe, yaitu:
(1) Subtipe 1a, adalah kata-kata kelas nomina yang
memiliki komponen makna [+nama diri]. Misalnya, Budi, Tanti, Ahmad, Cirebon,
dan Jakarta.
(2) Subtipe 1b, adalah kata-kata nomina yang
memiliki komponen makna [+nama perkerabatan]. Misalnya, ibu, bapak, nenek,
kakak, saudara, dan sepupu.
(3) Subtipe 1c, adalah kata-kata nomina yang
memiliki komponen makna [+nama pengganti]. Misalnya, dia, kamu, saya, mereka,
dan kalian.
(4) Subtipe 1d, merupakan kata-kata nomina yang
memiliki komponen makna [+nama jabatan]. Misalnya, dosen, gubernur, dokter,
bupati, dan notaris.
(5) Subtipe 1e, adalah kata-kata kelas nomina yang
memiliki komponen makna [+gelar]. Misalnya, raden, sarjana pendidikan, doktor,
datuk, tengku, syekh.
(6) Subtipe 1f, adalah kata-kata kelas nomina yang
memiliki komponen makna [+nama pangkat]. Misalnya, letnan, sersan, opsir,
jendaral, dan laksamana.
Tipe kedua, nomina yang
memiliki komponen makna utama [+nama institusi]. Umpamanya, Pemerintah, DPR,
Mahkamah Agung, Universitas, dan Bank.
Tipe ketiga, nomina
yang memiliki komponen makna utama [+binatang], seperti, harimau, ular, cacing,
kadal, paus, dan elang.
Tipe keempat, nomina
yang memiliki komponen makna utama [+tumbuhan].
Tipe kelima, nomina
yang memiliki komponen makna utama [+buah-buahan].
Tipe keenam, nomina
yang memiliki komponen makna utama [+bunga-bungaan].
Tipe ketujuh, yaitu
nomina yang memiliki komponen makna utama [+peralatan].
Tipe kedelapan, yaitu nomina
yang memiliki komponen makna utama [+makanan, +minuman].
Tipe kesembilan, nomina
yang memiliki komponen makna utama [+nama geografi], seperti kota, desa, laut,
sungai, dan gunung.
Tipe kesepuluh, yaitu
nomina yang memiliki komponen makna utama [+bahan baku]. Misalnya, semen,
pasir, batu, tanah, kapur, dan kayu.
Tipe kesebelas, nomina
yang memiliki komponen makna utama [+kegiatan], seperti olahraga, rekreasi,
camping, debat, diskusi, dan seminar.
2)
Verba
Ciri
utama verba atau kata kerja dilihat dari adverbia yang mendampinginya adalah
bahwa kata-kata yang termasuk kelas verba.
Pertama, dapat didampingi oleh adverbia negasi
tidak dan tanpa. Contoh:
- tidak datang
tidak pulang
- tanpa makan
tanpa membaca
Adverbia
negasi bukan dapat juga mendampingi sebuah verba, tetapi dengan persyaratan,
yaitu bila berada dalam konstruksi kontrastif. Perhatikan contoh berikut.
dia bukan menangis karena sedih, melainkan
karena gembira.
Kedua, dapat didampingi oleh semua adverbia
frekuensi, seperti:
- sering
datang
- jarang
makan
- kadang-kadang
pulang
Ketiga, tidak dapat
didampingi oleh kata bilangan dengan penggolongannya. Misalnya:
- sebuah
*membaca
- dua
butir *menulis
- tiga
butir *pulang
Namun, dapat didampingi
oleh semua adverbia jumlah. Seperti:
- kurang
membaca
- sedikit
menulis
- kurang
makan
- cukup
menarik
Keempat, tidak dapat
didampingi oleh semua adverbia derajat. Perhatikan contoh:
- agak
"pulang
- cukup
*datang
- lebih
*pergi
- kurang
*pergi
- sangat
*minum
- *membaca
sekali
- paling
*menulis
- sedikit
*lompat
Kelima, dapat
didampingi oleh semua adverbia kala (tenses). Simak contoh berikut:
- sudah
makan
- sedang
mandi
- tengah
membaca
- lagi
tidur
- akan
pulang
- hendak
pergi
- mau
menjual
Namun,
perlu diperhatikan ada verba yang keberlangsung- annya memerlukan durasi yang
relatiif panjang, seperti verba makan, membaca, dan mandi; tetapi ada pula
verba yang keberlangsungan- nya tidak memerlukan waktu yang panjang, seperti
memukul, memotong, dan meninju. Oleh karena itu, adverbia sedang dapat
mendampingi verba makan, membaca, dan mandi menjadi sedang makan, sedang
membaca, dan sedang mandi; tetapi tidak dapat mendampingi verba memukul,
memotong, dan meninju menjadi * sedang memukul, *sedang memotong, dan *sedang
meninju, Yang mungkin adalah sedang memotong-motong, sedang memukul mukul, dan
sedang meninju-ninju. Reduplikasi pada verba memukul memotong, dan meninju
menyebabkan ketiga verba itu menjādi verba duratif.
Keenam, dapat
didampingi oleh semua adverbia keselesaian Perhatikan contoh-contoh berikut.
- belum
mandi
- baru
datang
- sedang
makan
- sudah
pulang
Katujuh, dapat
didampingi oleh semua adverbia keharusan. Umpamanya. boleh mandi harus pulang
wajib datang Kedelapan, dapat didampingi oleh semua anggota adverbia kepastian.
Simak contoh berikut.
- pasti
datang
- tentu
pulang
- mungkin
pergi
- barangkali
tahu
Secara morfologi verba
yang berupa kata turunan dapat dikenali dari bentuknya yang:
(1) berprefiks ber-
berkonfiks ber-an
berklofiks ber-an
berklofiks ber-kan
(2) berprefiks me-
berklofiks me-kan
berklofiks me-i
berklofiks memper-
berprefiks me- dan konfiks per-kan
berprefiks me- dan berkonfiks per-i
(masing-masing dengan bentuk pasifnya
berprefiks di-, berprefiks ter- dan berprefiks zero)
(3) berprefiks ter-
bekonfiks ter-kan
berkonfiks ter-i
(4) berprefiks se-
(5) bersufiks -kan
(6) bersufiks -i
(7) berkonfiks ke-an
(di samping adanya bentuk ke-an yang berkelas nomina).
Tentang
verba bentukan atau turunan ini lebih jauh akan dibicarakan pada bab
pembentukan kata melalui proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.
Secara
sintaksis verba biasanya (malah selalu) menduduki fungsi predikat dalam sebuah
klausa, dan selalu dapat diikuti oleh frase dengan...contoh:
Ø adik
duduk dengan tenang.
Ø ayah
merokok dengan santai.
Ø ibu
menulis surat dengan pensil.
Lalu, dalam kedudukannya sebagai predikat
dapat dibedakan adanya.
(1) Verba transitif,
yakni verba yang memiliki objek. Di samping perlu dibedakan adanya verba monotransitif, yang objeknya sebuah dan
verba birtransitif yang objeknya dua buah.
(2) Verba intransitif, yakni verba yang tidak
mempunyai objek.
Tentang transitif dan intransitif lebih jauh
akan dibicarakan dalam kajian sintaksis.
Secara semantik kata-kata yang termasuk kelas
verba dapat dibedakan atas (1) verba tindakan, (2) verba kejadian, dan (3)
verba keadaan. Disebut verba tindakan karena di dalamnya terkandung perbuatan
yang dilakukan oleh subjek di mana verba itu menduduki fungsi predikat di dalam
sebuah klausa. Kata-kata berikut termasul verba tindakan: makan, baca, pulang,
dan pergi.
Verba tindakan ini ada dua macam. Pertama
verba tindakan yang memiliki komponen makna [+ sasaran], sehinggga di dalam
klausa verba tersebut diikuti oleh sebuah (atau dua buah) objek Misalnya:
Ø makan
(nasi)
Ø baca
(koran)
Ø tulis
(surat)
Ø minum
(bir)
Ø nonton
(telivisi)
Kedua, verba tindakan yang berkomponen makna
(-sasaran), sehingga di dalam klausa verba tersebut tidak diikuti oleh objek,
Misalnya:
Ø pergi
(o)
Ø lompat
(o)
Ø terbang
(o)
Ø mundur
(o)
Ø jalan
(o)
Yang
kedua disebut verba kejadian karena verba itu mangandung pengertian adanya
peristiwa yang menimpa subjek di mana verba tersebut menjadi predikat dalam
sebuah klausa. Simak contoh berikut:
Ø gunung
merapi meletus
Ø bukit
itu longsor
Ø daun-daun
mulai rontok
Ø pipa
PAM bocor di sana-sini
Ø ban
mobil itu pecah
Yang
ketiga disebut verba keadaan karena verba itu mengandung pengertian sebagai keadaan
yang dirasakan oleh subjek di mana verba tersebut menjadi predikat di dalam
sebuah klausa. Simak contoh-contoh berikut.
Ø kami
khawatir atas keselamatannya.
Ø mereka
takut kepada pejabat pemerintah itu.
Ø saya
bingung atas situasi seperti ini.
Beda
verba keadaan dari kata-kata dari ajektifa memang tidak banyak sebab semua
adverbia yang dapat mendampingi ajektifa dapat pula mendampingi verba keadaan
ini. Bedanya hanya kalau kata-kata dari kelas ajektifa dapat diimbuhi prefiks
ter- dalam pengertian 'superlatif', sedangkan verba keadaan ini tidak dapat.
Bandingkan!
terbaik
*tersuka
tertinggi
*terbingung
terindah *terkhawatir
termahal *terdendam
terbesar *terbenci
Namun, kedua kelompok
itu sama-sama dapat didampingi oleh adverbia paling. Perhatikan!
Ø paling
baik paling suka
Ø paling
tinggi paling binggung
Ø paling
indah paling khawatir
Ø Paling
mahal paling dendam
Ø paling
besar paling benci
Bila dilihat dari kompónen makna utamanya,
maka dapat dilihat adanya verba yang berkomponen makna utama.
(1) (+manusia], seperti menulis, membaca, dan
berpikir. Verba yang berkomponen makna [+ manusia) hanya dapat dilakukan atau
berlaku untuk subjek yang berupa manusia atau yang dimanusiakan.
(2) [+makhluk hidup), seperti makan, minum,
dan tidur. Verba yang berkomponen makna ini dapat dilakukan atau berlaku untuk
semua makhluk hidup, baik manusia maupun binatang.
(3) [+binatang),
seperti mengaum (untuk harimau), mencicit (untuk tikus), dan memagut (untuk
ular).
(4) [+lokasi], seperti duduk, lewat dan
terbit. Verba yang memiliki komponen makna [+ lokasi] ini memerlukan keterangan
tempat di dalam klausanya. Misalnya:
v adik
duduk di lantai
v tadi
beliau lewat di sini
v Matahari
terbit di timur
(5) [+ sasaran), seperti makan, menulis, dan melihat.
Verba yang memiliki komponen makna ini memerlukan adanya fungsi objek di dalam
klausanya. Misalnya:
v nenek
makan jambu
v kakek
menulis surat
v kami
melihat ulat itu
(6) [-sasaran), seperti melompat, datang, dan
pulang. Verba yang memiliki komponen makna ini tidak memerlukan adanya objek di
dalam klausanya.
(7) (+arah), seperti
menuju, pergi, dan pulang. Verba yang memiliki komponen makna ini memerlukan
adanya keterangan tempat di dalam klausanya
v kami
menuju ke desa itu
v ibu
pergi ke pasar
v meraka
pulang dari sekolah
(8) (+tindakan fisik], seperti menendang,
makan, melihat, memukul, dan melangkah.
(9) [-tindakan fisik),
seperti berpikir, membenci, dan mengkhawatirkan.
(10) [+ tindakan tangan), seperti memegang,
memukul, dan menuntun.
(11) [+tindakan kaki), seperti melangkah,
melompat, dan menendang.
(12) [+ tindakan mata), seperti melihat,
melirik, dan mengerling.
(13) [+tindakan mulut), seperti makan,
menggigit, dan minum.
3)
Ajektifa
Ciri
utama ajektifa atau kata keadaan dari adverbia
yang mendampingiya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas ajektifa
yaitu :
- Tidak
dapat didampingi oleh adverbial frekuensi sering, jarang, dan
kadang-kadang. Jadi, tidak mungkin ada.
-sering indah
-jarang tinggi
-kadang-kadang besar
- Tidak
dapat didampingi oleh adverbial jumlah. Jadi, tidak ada.
-banyak bagus
-sedikit baru
-sebuah indah
- Dapat
didampingi oleh semua adverbial derajat. Contohnya :
-agak tinggi
-cukup mahal
-lebih bagus
-sangat indah
- Dapat
didampingi oleh adverbial kepastian pasti, tentu, mungkin, dan barangkali.
Umpamanya :
-pasti indah
-tentu baik
-mungkin buruk
-barangkali cantik
- Tidak
dapat diberi adverbial kala (tenses) hendak dan mau. Jadi bentuk-bentuk tidak berterima.
-hendak indah
-mau tinggi
Secara
morfologi ajektifa yang berupa kata turunan atau kata bentukan dapat dikenali
dari sufiks-sufiks (yang berasal dari bahasa asing) yang mengimbuhkannya.
Contohnya :
-al : faktual,
gramatikal, ide l
-il : materiil,
prisipiil
-iah : alamiah,
ruhaniah, harfiah
-if : efektif, kualitatif,
administrative
-ik : mekanik, heroic
-is : teknis,
kronologis
b) Klasifikasi
kata kelas tertutup
Yang
termasuk kelas tertutup adalah kelas-kelas adverbia, kelas preposisi, kelas konjungsi,
kelas artikula, kelas interjeksi. Semuanya akan dibicarakan secara singkat,
berikut ini :
1)
Adverbia (Kata keterangan)
Adverbia
lazim disebut kata keterangan atau kata keterangan tambahan. Fungsinya adalah
menerangkan kata kerja kata sifat dan jenis kata yang lainnya, adverbia disebut
sebagai kata-kata yang bertugas mendampingi nomina, verba, dan ajektifa.
Adverbia
pada umumnya berupa bentuk dasar titik sedikit sekali yang berupa kata bentukan
titik yang berupa kata bentukan ini secara morfologi dapat dikenali dari bentuk
yang :
(a)
berprefiks se- seperti sejumlah, sebagian, seberapa, dan semoga.
(b)
ber prefiks se- dengan reduplikasi, seperti sekali-kali, semena-mena.
(c)
berkonfiks se-nya, seperti sebaiknya, seharusnya, sesungguhnya, dan sebisanya.
(d)
berkonfiks se-nya disertai reduplikasi seperti selambat-lambatnya,
secepat-cepatnya, dan sedapat-dapatnya.
Jika
dilihat dari segi semantik, yakni dari komponen makna utama yang dimiliki dapat
dilihat adanya kata-kata yang berkelas adverbia yang memiliki komponen makna.
(A)
[+ negasi], yaitu kata-kata tidak, bukan, tanpa, dan tiada. Kata tidak
digunakan untuk menegasikan kelas verba dan ajektifa. Kata bukan digunakan
untuk menegasikan kelas nomina; tetapi dapat juga digunakan untuk menegasikan
kelas verba dan ajektifa yang berada dalam konstruksi berkontraksi. Kata tanpa
digunakan untuk menegasikan kelas nomina dan verba; dan kata tiada digunakan
untuk menegasikan kelas nomina dan verba.
(B)
[+ frekuensi], yakni kata-kata sering, jarang, kadang-kadang, biasa,
sekali-kali, acapkali, dan selalu. Adverbia ini hanya dapat digunakan untuk
kelas verba; tidak dapat digunakan untuk kelas nomina dan kelas ajektifa.
(C)
[+ Kuantitas] atau [+Jumlah], yaitu banyak, sedikit, cukup, kurang, semua,
seluruh, sebagian, dan beberapa. Pada umumnya kata kata adverbia ini dapat
didampingi nomina. Namun ada juga yang dapat didampingi verba. Seperti contoh
yang terlihat dibawah ini :
Banyak
rumah
Sedikit
uang
Cukup
uang
Kurang
air
Semua
orang
Sebagian
orang
Banyak
membaca
Sedikit
bicara
Cukup
bicara
Kurang
bicara
Seluruh
Indonesia
Beberapa
orang
Catatan
: Adverbia semua dan seluruh memiliki perbedaan; semua menyatakan kumpulan dari
satu-satu; seperti semua orang dan semua mobil; sedangkan seluruh menyatakan
satu sebagai suatu yang utuh, misalnya seluruh Indonesia dan seluruh tubuhnya.
(D)
[+kualitas] atau [+derajat], yaitu agak, cukup, lebih, kurang, sangat, paling,
sedikit, dan sekali. Umumnya adverbia ini hanya dapat mendampingi kata-kata
dari kelas ajektifa. Misalnya :
Agak
baik
Cukup
baik
Lebih
baik
Kurang
baik
Sangat
baik
Paling
baik
Sedikit
baik
Baik
sekali
Tingkat
kederajatan itu kalau diurutkan adalah sebagai berikut :
Kurang
-> sedikit -> cukup -> agak -> lebih {sangat, paling, sekali}
(E)
[+waktu] atau [+kala], yakni adverbia sudah, sedang, lagi, tengah, akan,
hendak, dan mau. Adverbia ini pada dasarnya dapat mendampingi verba tindakan.
Misalnya :
Sudah
makan
Sedang
mandi
Tengah
membaca
Lagi
membaca
Hendak
pergi
Mau
pergi
Catatan
: Adverbia sedang, tengah, dan lagi tidak dapat mendampingi verba yang
berkomponen makan [- durasi].
Adverbia
sudah, sedang, akan, dan mau dapat juga mendapingi kata-kata dari kelas
ajektifa, seperti :
Akan
baik
Sedang
baik
Sudah
baik
(F)
[+ keselesaian], yaitu adverbia sudah, belum, baru, dan sedang. Adverbia ini
dapat mendampingi kata-kata dari kelas verba dan ajektifa. Misalnya :
Sudah
mandi
Belum
mandi
Baru
mandi
Sedang
mandi
Sudah
baik
Belum
baik
Baru
baik
Sedang
baik
(G)
[+ Pembatasan], yaitu adverbia hanya dan saja. Adverbia ini dapat mendampingi
kata-kata dari kelas verba, nomina dan kelas numeralia. Contoh :
Hanya
nasi
Nasi
saja
Hanya
seribu
Hanya
minuman
Minum
saja
Seribu
saja
(H)
[+keharusan], yaitu boleh, wajib, harus, dan mesti. Adverbia ini dapat
mendampingi kata-kata dari kelas verba. Misalnya :
Boleh
pergi
Wajib
pergi
Harus
pergi
Mesti
pergi
(I)
[+ kepastian], yaitu adverbia pasti, tentu, mungkin, barangkali. Adverbia ini
dapat mendampingi kata-kata dari kelas verba. Misalnya :
Pasti
hadir
Tentu
datang
Mungkin
terlambat
Barangkali
meninggal
Selain
mendampingi verba, adverbia ini juga dapat mendampingi klausa atau kalimat; dan
posisinya juga dapat dipermutasikan. Contohnya :
-
Tentu dia datang
Dia
tentu datang
Dia
datang tentu
-
Mungkin ayah pergi ke Jakarta
Ayah
mungkin pergi ke Jakarta
Ayah
pergi ke Jakarta mungkin
-
Barangkali mereka terlambat
Mereka
barangkali terlambat
Mereka
terlambat barangkali
2) Pronomina
Pronomina lazim disebut kata ganti. Secara
umum dibedakan adanya empat macam pronomina, yaitu (1) pronomina persona atau
kata ganti diri, (2) pronomina demontrativa atau kata ganti petunjuk, (3)
pronomina introgativa atau kata ganti tanya, (4) pronomina tak tentu.
1. Kata
ganti diri
Kata ganti diri adalah pronomina yang
menggantikan nomina orang atau yang diorangkan, baik berupa nama diri atah
bukan nama diri. Kata ganti diri ini biasanya dibedakan atas:
a. Kata ganti diri orang pertama tunggal, yaitu saya
dan aku; orang pertama jamak yaitu kami dan kita;
b. Kata ganti diri orang kedua tunggal, yaitu kamu
dan engkau; orang kedua jamak, yaitu kalian dan kamu sekalian.
c. Kata ganti diri orang ketiga tunggal yaitu ia,
dia, dan nya; orang ketiga jamak, yaitu mereka.
2. Kata ganti penunjuk
Kata ganti penunjuk atau pronomina
demontratifa adalah kata ini dan itu yang digunakan untuk
menggantikan nomina (frase nomina atau yang lainnya) sekaligus dengan
penunjukan. Kata ganti ini digunakan untuk menunjuk sesuatu yang dekat
dari pembicara; sedangkan kata ganti itu digunakan untuk menunjuk
sesuatu yang jauh dari pembicara.
3. Kata ganti tanya
Kata ganti tanya (pronomina introgatifa)
adalah kata yang digunakan untuk bertanya atau menanyakan sesuatu (nomina atau
yang dianggap konstruksi nominal). Kata ganti tanya itu adalah apa, siapa,
kenapa, mengapa, berapa, bagaimana, dan mana.
Kata ganti tanya apa digunakan
untuk menanyakan nomina (benda atau hal). Kata ganti tanya siapa
digunakam untuk menanyakan nama diri atau nama jabatan seseorang. Kata ganti
tanya mengapa dan kenapa digunakan untuk menanyakan sebab
terjadinya sesuatu. Kata ganti tanya berapa untuk menanyakan jumlah atau
banyaknya sesuatu. Kata ganti tanya bagaimana digunakan untuk menanyakan
hal, proses terjadinya sesuatu. Kata ganti mana digunakan untuk
menanyakan tempat keberadaan, untuk lebih menegaskan keberadaam biasanya kata
ganti mana dilengkapi dengan preposisi dari, di, dan ke.
4. Pronomina tak tentu
Pronomina tak tentu adalah kata-kata
yang digunakan untuk menggantikan nomina yang tidak tentu. Yang termasuk kata
ganti tak tentu adalah seseorang, salah seorang, siapa saja, setiap orang,
masing-masing, suatu, sesuatu, salah satu, beberapa, dan sewaktu-waktu.
3) Numeralia
(a) Kata bilangan
Numeralia atau kata bilangan adalah kata-kata yang
menyatakan bilangan, jumlah, nomor, urutan, dan himpunan. Menurut bentuk dan
fungsinya biasanya dibicarakan adanya kata bilangan utama, bilangan genap,
bilangan ganjil, bilangan bulat, bilangan pecahan, bilangan tingkat, dan kata
bantu bilangan. Kata bilangan dapat ditulis dengan angka arab, angka romawi,
maupun dengan huruf.
Kata
bilangan utama atau kata bilangan sejati adalah kata-kata seperti satu, dua,
tiga lima, tujuh, sebelas, tiga belas, dan sebagainya. Kata empat bukan kata
bilangan utama sebab merupakan perkalian dua kali dua; begitu juga dengan enam
yang merupakan hasil perkalian dua kali tiga; dan sebagainya.
Kata
bilangan genap adalah kata bilangan yang habis dibagi dua, misalnya dua, empat,
enam, delapan, sepuluh, dan sebagainya. Sedangkan bilangan ganjil adalah
bilangan yang tidak habis dibagi dua, seperti satu, tiga, lima, tujuh,
sembilan, sebelas, dan seterusnya. Baik bilangan genap maupun bilangan ganjil
dapat disebut bilangan bulat; sebagai lawan dari bilangan pecahan seperti
setengah, dua pertiga, seperempat, seperlima, dua perlima, dan sebagainya.
Contoh lain bilangan
utama dalam bahasa tndonesia adalah (ditulis dengan angka dan huruf).
5 lima
27 dua
puluh tujuh
100 seratus
112 seratus
dua belas
1000 seribu
2504 dua ribu
lima ratus empat
10.000 sepuluh
ribu
100.000 seratus ribu
1.000.000 satu juta
1.000.000.000 satu miliar
1.000.000.000.000 satu triliun
Kata
bilangan tingkat digunakan untuk menyatakan urutan, seperti kata kelima, ketujuh,
dan keseratus pada kalimat.
- Beliau
duduk di kursi kelima dari kiri.
- Dia
tinggal di rumah ketujuh dari sini.
- Pendaftar
keseratus dibebaskan dari uang pendaftaran.
Di
samping kata bilangan tingkat ada pula kata bilangan himpunan, yakni kata
bilangan yang menyatakan kelompok atau jumlah. Bentuknya sama dengan bentuk
kata bilangan tingkat. Simak contoh berikut.
- Kedua
rumah itu disita oleh pengadilan.
- Ketiga
orang itu dituduh dalam gerakan terorisme.
- Keempat
biro perjalanan itu telah dibekukan.
(b) Kata bantu bilangan
Kata
bantu bilangan disebut juga kata penjodoh bilangan, atau kata penggolong
bilangan adalah kata-kata yang digunakan sebagai tanda pengenal nomina tertentu
dan ditempatkan di antara kata bilangan dengan nominanya. Kata bantu bilangan digunakan
adalah orang untuk manusia, ekor untuk binatang, dan buah untuk benda umum.
Selain itu, secara spesifik digunakan juga kata-kata batang, fembar, helai,
butir, biji, pucuk, bitah, mata, tangkai, kuntum, tandan, carik, kaki, pasang,
dan rumpun. Perhatikan contoh berikut.
- dua
orang Korea
- seorang
lurah
- seekor
buaya
- lima
ekor gajah
- dua
buah rumah
- empat
buah mangga
- dua
batang pensil
- selembar
kertas
- sehelai
kain
- lima
butir telur
- dua
biji salak
- sepucuk
meriam
- sebilah
parang
- dua
mata kail
- setangkai
bunga
- sekuntum
mawar
- setandan
pisang
- secarik
kertas
- sekaki
payung
- sepasang
sepatu
- serumpun
bambu
- Kata
bantu bilangan di atas digunakan untuk nomina terhitung; untuk nomina tak
terhitung digunakan nama wadah pengukur nomina itu. Perhatikan contoh-contoh
berikut!
- secangkir
kopi
- dua
liter minyak
- Sepetak
sawah
- dua
bot kecap
- sepotong
roti
- seiris
mangga
- setumpuk
batu.
4) Preposisi
Preposisi
atau kata depan adalah kata-kata yang digunakan untuk merangkai nomina dengan verba
didalam suatu klausa. Misalnya kata di dan dengan dalam kalimat.
-nenek
duduk di kursi
-kakek
menulis surat dengan pensil
Secara
semantik preposisi ini menyatakan makna.
- Tempat
berada, yaitu preposisi di, pada, atas, dan antara. Contoh pemakaiannya :
-
Nenek
tinggal di Bogor.
-
Depok
terletak antara Jakarta dan Bogor.
-
Terima
kasih atas pemberian itu.
- Arah
asal, yaitu preposisi dari. Contoh pemakaiannya :
-
Dia
datang dari Kediri.
-
Mereka
baru datang dari desa.
- Arah
tujuan, yaitu preposisi ke, kepada, akan, dan terhadap. Contoh
pemakaiannya :
-
Mereka
menuju ke Utara.
-
Saya
memang takut akan hantu.
-
Kami meminta tolong kepada polisi.
- Pelaku
yaitu preposisi oleh. Contoh pemakaiannya :
-
Jembatan
itu dibangun oleh pemerintah pusat.
-
Rumah
sakit ini diresmikan oleh Gubernur DKI.
- Alat,
yaitu preposisi dengan dan berkat. Contoh pemakaiannya :
-
Kayu itu
dibelah dengan kapak.
-
Aku
berhasil berkat bantuan saudara-saudara sekalian.
- Perbandingan,
yaitu preposisi daripada. Contoh pemakaiannya :
-
Kue ini
lebih enak daripada kue itu.
-
Daripada
mencuri lebih baik kita minta.
- Hal
atau masalah, yaitu preposisi tentang dan mengenai. Contoh pemakainnya :
-
Mereka
berbicara tentang gempa bumi.
-
Mengenai
anak itu biarlah saya yang mengurusnya.
- Akibat,
yaitu preposisi hingga atau sehingga dan sampai. Contoh pemakaiannya :
-
Tukang
copet itu dipukuli orang banyak hingga babak belur.
-
Dia
berjalan kaki sejauh itu sampai sepatunya hancur.
Selain
itu preposisi hingga dan sampai juga menyatakan batas tempat dan batas waktu.
Contohnya :
-
Kami
bersepeda hingga/sampai batas kota.
-
Mereka
berdiskusi hingga/sampai larut malam.
- Tujuan,
yaitu preposisi untuk, buat, guna, dan bagi. Contoh pemakaiannya :
-
Ibu
membeli sepeda baru untuk adik.
-
Bagi saya
uang seribu rupiah besar artinya.
-
Beliau
membawa oleh-oleh untuk kami.
Perlu dicatat ada beberapa kata seperti
untuk dan bagi yang berlaku juga sebagai konjungsi. Untuk membedakannya perlu
dierhatikan bahwa kata yang termasuk preposisi membentuk frase preposisi dengan
nomina yang mengikutinya, dan menduduki fungsi keterangan di dalam kalimat atau
klausa. Sedangkan konjungsi menggabungkan dua unsur sintaksis, baik kata,
frase, klausa,maupun kalimat.
5) Konjungsi
(Kata penghubung)
Konjungsi
atau kata penghubung adalah kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan
sintaksis, baik antara kata dengan kata, antara frase dengan frase, antara
klausa dengan klausa, atau antara kalimat dengan kalimat.
a.
Konjungsi jika dilihat dari tingkat kedudukannya dibedakan menjadi 2, yaitu :
(a.1)
Konjungsi koordinatif
(a.2)
Konjungsi subordinatif
b.
Dan jika dilihat dari luas jangkauannya, konjungsi dapat dibedakan menjadi 2,
yaitu :
(b.1)
Konjungsi intrakalimat
(b.2)
Konjungsi antarkalimat
(a.1)
Konjungsi Koordinatif
Konjungsi
Koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat atau lebih
yang kedudukannya sederajat atau setara. Kemudian dilihat dari sifat
hubungannya dikenal adanya konjungsi :
(1)
Menghubungkan menjumlahkan (Konjungsi Penambahan), yaitu konjungsi dan, dengan,
serta. Contohnya sebagai berikut :
-
Nenek dan kakek pergi ke Makassar.
-
Adik dengan ayah belum pulang.
-
Mereka menyanyi serta menari sepanjang malam.
(2)
menghubungkan memilih (Konjungsi pemilihan), yaitu konjungsi atau. Contoh
kalimatnya :
-
Mana yang kamu pilih, yang merah atau yang biru.
-
Kamu yang datang ke rumah saya atau saya yang datang ke rumah kamu?
(3)
menghubungkan mempertentangkan (Konjungsi pertentangan), yaitu preposisi
tetapi, namun, sedangkan, dan sebaliknya. Contohnya :
-
Kami ingin menyumbang lebih, tetaplah kemampuan kami terbatas.
-
Mereka sudah berkali-kali dinasihati guru. Namun, mereka tetap saja membandel.
-
Ali dan Ahmad belajar bahasa Inggris, sedangkan dia belajar bahasa Arab.
-
Dalam liburan yang lalu orang-orang berlibur ke mana-mana; sebaliknya saya
berdiam saja dirumah.
(4)
Menghubungkan membetulkan, yaitu konjungsi melainkan dan hanya. Perhatikan
contoh berikut.
-
Dia menangis bukan karena sedih, melainkan karena gembira.
-
Masakan ini bukan main enaknya; hanya terlalu pedas.
(5)
Menghubungkan menegaskan, yaitu konjungsi bahkan, malah (malahan), lagipula,
apalagi, jangankan. Misalnya :
- Kikirnya bukan main. Bahkan untuk makan pun
dia segan mengeluarkan uang.
-
Dinasihati baik-baik bukannya berterima kasih, malah (malahan) dia memusuhi
kita.
-
Saya tidak hadir karena sakit. Lagipula saya tidak diundang.
-
Jalan-jalan di ibukota seringkali macet. Apalagi pada jam-jam sibuk.
-
Jangankan seribu rupiah, satu rupiah pun aku tidak punya uang.
(6)
Menghubungkan membatasi, yaitu konjungsi kecuali, dan hanya. Contohnya :
-
Semua siswa sudah hadir, kecuali Hadi.
-
Saya tidak apa-apa. Hanya agak pening..
(7)
Menghubungkan mengurutkan, yaitu konjungsi kemudian, lalu, selanjutnya, dan
setelah itu. Perhatikan contoh-contoh berikut ini :
-
Mula-mula kami dipersilakan duduk, kemudian kami diminta mengutarakan maksud
kedatangan kami.
-
Dia duduk lalu menulis surat itu
-
Beliau mengeluarkan dompet dan mengeluarkan selembar uang kertas selanjutnya
diberikannya kepada saya.
(8)
menghubungkan menyamakan, yaitu konjungsi yaitu, yakni, ialah, adalah, dan
bahwa. Contohnya :
-
Kedua anak itu, yaitu Dedi dan Hasan, sering dimarahi ayahnya.
-
Tugas mereka, yakni mencuci dan memassk, telah dilakukan dengan baik.
-
Yang kami perlukan ialah kertas, lem, dan perekat, harus kami beli di kota.
-
Para relawan adalah orang-orang yang mau menolong tanpa mengharap imbalan
apa-apa.
-
Kabar bahwa mereka akan menikah sudah diketahui umum.
(a.2)
Konjungsi subordinatif
Konjungsi
subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat (klausa)
yang kedudukannya tidak sederajat. Artinya, kedudukan klausa yang satu lebih
tinggi (sebagai klausa utama) dan yang kedua sebagai klausa bawahan atau lebih
rendah dari yang pertama. Konjungsi subordinatif ini dibedakan pula atas
konjungsi yang menghubungkannya.
(1)
Menghubungkan menyatakan sebab akibat, yaitu konjungsi sebab dan karena.
Perhatikan contoh berikut ini :
-
Banyak petani yang mengeluh sebab harga pupuk makin mahal.
-
Kami tidak dapat melanjutkan perjalanan karena hari sudah malam.
-
Karena ketiadaan dana, kami terpaksa berhenti kuliah.
(2)
Menghubungkan menyatakan persyaratan, yaitu konjungsi kalau, jikalau, jika,
bila, bilamana, apabila, dan asal. Perhatikan contoh berikut ini :
-
Kalau diundang, saya akan hadir.
-
Saya akan datang kalau diberi ongkos.
-
Jikalau tidak ada halangan, saya akan datang.
-
Jika diizinkan ayah, kami akan ikut serta.
-
Bila cuaca baik, kami akan pergi mengail.
-
Pohon-pohon akan mati bilamana musim kemarau terlalu panjang.
-
Kami akan mengunjungi nenek di desa apabila musim liburan tiba.
(3)
Menghubungkan menyatakan tujuan, yaitu konjungsi agar dan supaya. Perhatikan
contoh berikut ini :
-
Kami berangkat pagi-pagi agar tidak terlambat tiba di sekolah.
-
Agar tumbuh dengan baik tanaman ini harus diberi pupuk secukupnya.
-
Kami bekerja siang malam supaya pekerjaan ini lekas selesai.
-
Supaya lalu lintas lancar, maka akan dibangun jembatan layang di situ.
(4)
Menghubungkan menyatakan waktu, yaitu konjungsi ketika, sewaktu, sebelum,
sesudah, tatkala, sejak, sambil, dan selama. Contohnya bisa dilihat sebagai
berikut.
-
Nenek datang ketika kami sedang makan siang.
-
Sewaktu terjadi gempa saya sedang tidak ada di rumah.
-
Biasakan mencuci tangan sebelum makan.
-
Sesudah sarapan kami berangkat ke sekolah.
-
Tatkala terjadi kerusuhan saya sedang berada di luar kota.
-
Sejak matahari terbit sampai sekarang pekerjaanku belum selesai juga.
-
Mereka bekerja sambil bergurau.
-
Salama musim kemarau kita harus waspada akan bahaya kebakaran.
(5)
Menghubungkan menyatakan akibat, yaitu konjungsi sampai, hingga, dan sehingga.
Simak contoh berikut.
-
Pencuri itu dipukuli oleh orang banyak sampai mukanya babak belur.
-
Dia terlalu banyak makan hingga tidak kuat berdiri.
-
Dia terjerembab jatuh ke lumpur sehingga bajunya kotor penuh lumpur.
(6)
Menghubungkan menyatakan batas kejadian, yaitu konjungsi sampai dan hingga.
Perhatikan contoh berikut :
-
Kami menyelesaikan pekerjaan itu sampai pukul tiga dini hari.
-
Mereka berjalan kaki di tengah hutan itu hingga bertemu dengan sebuah gubuk
kecil.
(7)
Menghubungkan menyatakan tujuan atau sasaran, yaitu konjungsi untuk dan guna.
Misalnya :
-
Untuk mengatasi bahaya banjir pemerintah akan membuat saluran baru.
-
Murid-murid dikumpulkan di aula guna mendapat pengarahan dari kepala sekolah.
(8)
Menghubungkan menyatakan penegasan, yaitu konjungsi meskipun, biarpun,
kendatipun dan sekalipun. Misalnya :
-
Mereka berangkat juga ke Jakarta meskipun tidak diizinkan oleh orang tua
mereka.
-
Biarpun hujan lebat pertandingan sepak bola itu berjalan terus.
-
Sekalipun tidak lulus ujian, mereka tetap bergembira.
(9)
Menghubungkan menyatakan pengandaian, yaitu konjungsi seandainya, dan
andaikata. Simak contoh berikut :
-
Seandainya saya punya uang satu miliar kamu akan saya belikan mobil baru.
-
Saya pasti akan celaka andaikata saya jadi berangkat.
(10)
Menghubungkan menyatakan perbandingan, yaitu konjungsi seperti, sebagai, dan
laksana. Perhatikan contoh-contoh berikut.
-
Kedua anak itu harus selalu saja bertengkar seperti kucing dengan anjing.
-
Kami terkejut bukan main laksana mendengar petir di siang hari.
-
Wajahnya pucat pasi 'sebagai' bulan kesiangan.
(b.1)
Konjungsi antarkalimat
Yang
dimaksud dengan konjungsi antarkalimat adalah konjungsi yang digunakan untuk
menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain yang berada dalam satu
paragraf. Melihat sifat hubungannya dikenal adanya konjungsi antarkalimat yang
:
(1)
Menghubungkan dan mengumpulkan, yaitu konjungsi jadi, karena itu, oleh sebab
itu, kalau begitu, dan dengan demikian. Simak contoh-contoh berikut.
-
Minggu lalu kamu meminjam uang saya seribu rupiah; dua hari yang lalu seribu
rupiah; dan kini lima ribu ripiah. Jadi, hutangmu semua ada delapan ribu
rupiah.
-
Ali dan Ahmad seringkali berkelahi di sekolah. Karena itu, mereka seringkali
dihukum guru.
-
Dewasa ini harga-harga kebutuhan pokok sangat mahal, mencari pekerjaan juga
tidak mudah; dan pengangguran semakin bertambah. Oleh karena itu jangan heran
kalau pencurian terjadi dimana-mana.
(2)
Menghubungkan menyatakan penegasan, yaitu konjungsi lagilula, dan apalagi.
Simak contoh berikut.
-
Mari kita makan di warung itu. Masakan enak dan harganya murah. Lagipula
pelayannya sangat baik.
-
Hawa di Jakarta sangat panas. Apalagi pada siang hari.
(3)
Menghubungkan mempertentangkan atau mengontraskan, yaitu konjungsi namun dan
sebaliknya. Simak contoh berikut.
-
Sejak kecil dia kami asuk, kami didik, dan kami sekolahkan. Namun, setelah
dewasa dan jadi orang besar dia lupa kepada kami.
-
Dia memang bandel, keras kepala, dan suka membantah. Namun demikian, hatinya
baik dan suka menolong.
-
Muara sungai ini lebar dan dangkal. Sebaliknya dibagian hulu sungai ini sempit
dan dalam.
6) Artikulus
Artikulus atau kata sandang adalah kata-kata yang
berfungsi sebagai oenentu atau mendefinitkan sesuatu nomina, ajektifa, atau
kelas lain. Artikulus yang ada dalam bahasa Indonesia adalah si dan sang.
7) Interjeksi
Interjeksi
adalah kata-kata yang mengungkapkan perasaan batin, misalnya, karena kaget,
marah, terharu, kangen, kagum, sedih, dan sebagainya. Dilihat dari strukturnya
ada dua macam interjeksi. Pertama, yang berupa kata-kata singkat seperti wah,
cih, hai, oi, oh, nah, hah. Kedua, yang berupa kata-kata biasa, seperti aduh,
celaka, gila, kasihan, bangsat, astaga, alhamdulillah, dan masya Allah.
Contohnya :
“Wah,
mahal sekali! kata ibu itu.
“Nah,
rasakanlah olehmu akibatnya! kata ayah kepada orang itu.
“Alhamdulillah,
akhirnya kita berhasil Seru Pak RT.
8) Partikel
Di
samping kata-kata yang termasuk kelas-kelas di atas ada pula sejumlah bentuk
yang di sini disebut partikel seperti kah,tah, lah, pun, dan per. Partikel ini
ada yang sebagai penegas, tetapi ada pula yang bukan. Simak contoh-contoh
berikut.
- Apakah
isi lemari itu?
- Siapakah-namamu-yang-sebenarnya?
- Apalah
dayaku mengahadapi cobaan seperti ini?
- Di
manakah kamu tinggal?
- Ambillah
mana yang kamu suka!
- Sayalah
yang bersalah, bukan anak itu.
- Saya
tidah tahu, dia pun tidak tahu.
- Kalau
kamu tidak puas, saya pun tidak puas.
- Harganya
Rp 1000,00 per lembar.
- Gaji
kamu naik per satu April.
Comments
Post a Comment