KATA

 Hakikat Kata

Istilah kata sering kita dengar dan gunakan. Malah barangkali kata-kata ini hampir setiap hari dan setiap saat digunakan dalam segala keperluan dan kesempatan. Tetapi kalau ditanya apakah kata itu ? Maka jawabnya barangkali tidak semudah menggunakannya. Para linguis yang sehari-hari yang bergelut dengan bahasa ini, hingga dewasa ini, kiranya tidak pernah mempunyai kesamaan pendapat mengenai konsep apa yang disebut kata. Menurut KBBI (2008 : 633) “Kata merupakan morfem atau kombinasi morfem yang oleh bangsawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan dalam bentuk bebas atau satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri yang terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem”. Kata kata dari bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Sanskerta katha. Dalam bahasa Sansekerta, katha bermakna “konversasi”,”bahasa”,”cerita”atau “dogeng”.

Para tata bahasawan tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata berdasarkan arti dan ortografi. Kata adalah satuan bahasan yang memiliki satu pengertian atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua spasi, dan mempunyai satu arti.

Para tata bahasawan struktural terutama penganut Bloomfield memberi pengertian tentang kata berdasarkan batasan kata yang dibuat mereka . Kata merupakan satuan bebas terkecil ( a minimal free from ) tidak pernah diulas atau dikomentari, seolah-olah batasan itu bersifat final. Selanjutnya menurut Abdul Chaer ( 2008 : 63)  kata merupakan bentuk yang  ke dalam mempunyai susunan fonologi yang stabil dan tidak berubah dan keluar mempunyai mobilitas dalam kalimat. Hal senada juga dinyatakan dalam buku Prof. Dhs. M. Ramlan  (2009 : 33) kata merupakan satuan bebas yang palin terkecil. Merujuk dari pendapat di atas dapat penulis simpulkan  bahwa kata pada hakikatnya merupakan satuan gramatika terkecil yang merupakan gabungan dari beberapa suku kata sehingga membentuk kata dan memiliki satu arti ataupun pengertian.

Batasan Kata

Dalam pembentukan kata terdapat beberapa macam batasan kata yaitu sebagai berikut :

Setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak berubah serta tidak dapat diselipi atau diselang oleh fonem lain. Misalnya kata sikat , urutan fonemnya /s/,/i/,/k/,/a/,dan /t/. Urutan itu tidak dapat diubah misalnya menjadi /s/,/k/,/a/,/i/,dan /t/ atau diselipi fonem lain.

Setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat, atau tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh kata lain atau juga dapat dipisahkan dari kata lainnya. Misalnya kaliamat nenek membaca komik itu kemarin. Kalimat itu terdiri dari lima kata yaitu nenek, membaca, komik, itu, dan kemarin. Posisi kata kemarin dapat dipindahkan, umpamanya menjadi kemarin nenek membaca komik itu.

Penentuan atau Pembentukan Kata

Pembentukan kata mempunyai dua sifat yaitu sebagai berikut :

1)      Inflektif

Inflektif merupakan perubahan bentuk kata dalam bahasa fleksi yang menunjukkan berbagai hubungan gramatiakal seperti deklinasi, nomina, pronomina, adjektiva dan konjungasi. Kata-kata dalam bahasa-bahasa berflektif, seperti bahasa Arab, bahasa Latin, dan bahasa Sanskerta, untuk dapat digunakan di dalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan katagori-katagori gramatika yang berlaku dalam bahasa itu. Alat yang digunakan untuk penyesuaian bentuk itu biasanya berupa afiks, yang mungkin berupa prefiks, infiks, dan sufiks atau juga berupa modifikasi internal,yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasar itu.

Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba disebut konjugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektifa disebut deklinasi. konjugasi pada verba biasanya berkenaan dengan kala (tense), aspek, modus, diatesis, pesona, jumlah, dan jenis sedangkan deklinasi biasanya berkenaan dengan jumlah, jenis, dan kasus. Dalam buku-buku tata bahasa bahasa berfleksi, pembahasan biasanya hanya berkisar pada konjugasi dan deklinasi ini saja. Disini akan diberikan sekedar contoh konjugasi dan deklinasi itu.

Verba bentuk infinitif bahasa Latin amare  ‘mencintai’ untuk pesona pertama tunggal,modus indikatif aktif ,bentuknya untuk kala (tense) yang berbeda adalah sebagai berikut:

Kata                Bentuk                        Arti

Presen              amo                 aku mencintai

Futura              amabo              aku akan mencintai

Perfekta           amavi               aku (telah) mencintai

Sedangkan untuk kala kini (present) modus indikatif  untuk pesona yang berbeda, bentuk amare itu akan menjadi sebagai berikut:

Orang I tunggal           amo                 saya mencintai

Orang I jamak             amamus           kami (kita) mencintai

Orang II tunggal         amas                engkau mencintai

Orang II jamak            amatis              kamu (sekalian) mencintai

Bentuk-bentuk kata yang berbeda itu seperti amo, amamus, amas, dan amatis sesungguhnya memilliki identitas leksikal yang sama. Jadi, berarti adalah sebuah kata yang sama hanya bentuknya saja yang berbeda.

Deklinasi atau perubahan bentuk pada kata benda kita lihat contoh dari bahas Latin. Untuk kasus nominal tunggal dan jamak sebagai berikut:

Tunggal

Nominatif    : dominus                    ‘tuhan’ (subjek)

Genitif         : dominasi liber            ‘buku (milik) tuhan’                dominorum

Datif           : domino                      ‘kepada tuhan’

Akusatif      : dominum                   ‘tuhan’ (objek)                         Jamak

Nominatif   : domini                       ‘tuhan-tuhan’

Genitif        : dominorum liber        ‘buku (milik) tuhan-tuhan’      Dominorum               

Datif           : dominis                     ‘kepada tuhan-tuhan’

Akusatif      : dominos                    ‘tuhan-tuhan’

Sekarang kita lihat contoh deklinasi aktifa dalam bahasa Jerman. Ajektifa dalm bahasa Jerman mempunyai tiga macam konstruksi, yaitu:

Pertama, konstruksi aktifa+nomina tanpa kata sandang atau pronomina apa-apa di daepannya (yaitu “deklinasi kuat dari ajektifa) perhatikan bentuk tunggal dan bentuk jamaknya!

Tunggal            Maskulin                   Feminin          Neutrum

‘laki-laki baik’           ‘wanita baik’   ‘anak baik’

Nominatif   : guter Mann                gute Frau         gutes Kind

Genitif        : guten Mannes            guter Frau        guten Kindes

Datif           : guten Manne             guter Frau        guten Kind (e)

Jamak             Semua Jenis

Nominatif   :gute Manner/Frauen/Kinder

Genitif        :guter Manner/Frauen/Kinder

Datif           :guten Manner/Faruen/Kindem

Kedua, berkonstruksi kata sandang definit + ajektifa + nomina (yaitu “ deklinasi lemah” dari ajektifa).

Tungal                        maskulin                     feminin                       neutrum

Nominatif   :           der gute Mann             die gute Frau              das gute  Kind

Genitif        :           des guten Manner       der guten Frau                         das guten Kindes

Datif           :           des guten Mann (e)     der guten Frau             des guten  Kind(e)

Jamak                         Semua Jenis

Nominatif   : die guten Manner/Frauen/Kinder

Genitif        : der guten Manner/Frauen/Kinder

Datif           : den guten Manner/Frauen/Kindem

Ketiga, berkonstruksi kata sandang indekfinit + ajektifa + nomina (yaknu deklinasi campuran kuat dan lemah).

Tunggal          Maskulin                     Feminin                      Neutrum

Nominatif    :   ein guter Mann            eine gute Frau             ein gutes Kind

Genitif        :    einer guten Manner     einer guten Fru            eines guten Kindes

Datif           :    einen guten Manne      einer guten Frau          eines guten Kind(s)

Bahasa Indonesia bukanlah bahasa berfleksi. Jadi, tidak ada masalah bagi konyugasi dan deklinasi dalam bahasa Indonesia. Namun, banyak penulis Barat termasuk Verhaar (1978) menyatakan bentuk-bentuk seperti membaca, dibaca, terbaca, kaubaca dan bacalah adalah paradigma infleksional. Dengan kata lain, bentuk-bentuk tersebut merupakan kata yang sama, yang berarti juga mempunyai identitas leksikal yang sama. Perbedaan bentuknya adalah berkenaan dengan modus kalimatnya. Dengan demikian, me-,di-,ter-,ku- dan kau- adalah infleksional.

2)      Derivatif

Pembentukan secara derevatif atau derivisional merupakan pembentukan kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya. Contohnya dalam bahasa Indonesia dapat diberikan, misalnya dari kata air yang berkelas nomina dibentuk menjadi mengairi yang berkelas verba. Kemudian dari kata makan yang berkelas verba dibentuk kata makanan yang berkelaas nomina.perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama seperti kata makanan dan pemakan, yang sama-sama berkelas nomina, tetapi maknanya tidak sama.

Dalam pembentukan kata dapat terjadi dalam beberapa kata sehingga dapat membentuk suatu kata contohnya sebagai berikut :

               ber    atur       an 

Dari bagan pembentukan diatas dapat dilihat bahwa kata dalam bahasa Indonesia beraturan terjadi dalm dua tahap yaitu mula-mula pada dasar atur  diimbuhkan sufiks –an menjadi aturan . setelah iru dasar  aturan itu diimbuhkan pula denga prefiks ber- sehingga terbentuklah kata , yang memiliki arti   “mempunyai aturan”.

Klasifikasi Kata

Istilah lain yang biasa dipakai untuk klasifikasi kata adalah penggolongan kata, atau penjenisan kata. Dalam  peristilahan bahasa Inggris disebut part of spech.  Klasifikasi kata dapat dibagi berdasarkan :

1)      Kriteria makna atau semantik

Kriteria makna atau semantik dapat digunakan untuk mengidentifikasi kelas kata sebagai berikut :

a.      Kelas Verba

Kelas verba merupakan kelas kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadan. Juga sering disebut dengan kata kerja.contohnya belajar, meledak dan sebagainya.

Jenis-jenis verba dapat dikelompokan menjadi 4, yaitu:

a)      Berdasarkan Bentuk

1.      Kata kerja dasar (verba dasar)

Kata kerja dasar adalah kata kerja yang tidak memiliki imbuhan atau merupakan kata dasar. Misalnya makan, minum, mandi, tidur, lari, bakar, datang, bangun, ambil, angkat, antar, dll. Contoh dalam kalimat :

·         Sudah jam 12.00 siang, Marni masih juga belum bangun

·         Adi tidak pernah minum minuman keras

·         Erna dan teman-temannya mandi di sungai

·         Libur panjang kerjanya hanya makan dan tidur saja

2.      Kata kerja turunan (verba turunan)

Kata kerja turunan adalah kata kerja yang telah mendapatkan imbuhan/afiks. Kata kerja turunan dapat dibagi menjadi 5 kategori yaitu:

1)      Bebas afiks wajib, contoh : melebar, mendarat, bersepeda, mendarat.

2)      Bebas afiks manasuka, contoh : membaca, berlari, mengambil, bekerja.

3)      Terikat afiks wajib, contoh : bersua, berjuang, bertemu, mengungsi.

4)      Reduplikasi, contoh : berayun-ayun, berputar-putar, loncat-loncat.

5)      Majemuk, contoh : tatap muka, temu wicara, naik haji.

Contoh kata kerja turunan dalam kalimat :

·         Sawah-sawah mulai mengering di musim kemarau

·         Ayah bekerja hingga larut malam

·         Adi bertemu Mirna di toko buku

·         Pepohonan itu menari nari tertiup angina

·         Setiap akhir pekan kami jalan-jalan di mal sambil cuci mata

b)      Berdasarkan banyaknya nomina (objeknya)

1.      Kata kerja transitif

Kata kerja transitif adalah kata kerja yang harus mempunyai objek. Dalam kalimat, kata kerja ini harus diikuti objek agar dapat diketahui maknanya. Contoh:

·         Marni memetik buah. (kata “memetik” merupakan kata kerja transitif. “memetik” dapat diartikan memetik buah, bunga, daun dan sebagainya, sehingga harus diperjelas dengan adanya objek dalam kalimat).

·         Adi membuat rumah pohon. (kata “membuat” merupakan kata kerja transitif. “membuat” dapat diartikan membuat kue, robot, permainan, dan sebagainya, sehingga harus diperjelas dengan adanya objek dalam kalimat).

·         Erna menggiring bola di lapangan. (kata “menggiring” merupakan kata kerja transitif. “menggiring” dapat diartikan menggiring bola, hewan ternak dan sebagainya, sehingga harus diperjelas dengan adanya objek dalam kalimat).

2.      Kata kerja intransitif

Kata kerja intransitif adalah kata kerja yang tidak membutuhkan objek, karena maknanya sudah jelas. Contoh kata kerja intransitif seperti pergi, tidur, duduk. Meskipun demikian, kata kerja intransitif biasanya diikuti dengan keterangan. Contoh :

·         Adi sedang makan di kantin sekolah

·         Erna tidak jadi pergi ke puskesmas

·         Mirna sedang tidur pulas

·         Keluarga korban kecelakaan itu menangis

c)      Berdasarkan hubungan verba dengan nomina (peran subjeknya)

1.      Kata kerja aktif

Kata kerja aktif adalah kata kerja dimana subjeknya berposisi sebagai pelaku dan biasanya berawalan me- dan ber-.

Contoh:

·         Adi memukul bola dengan kuat

·         Mirna mengumpulkan kerang di pantai

·         Kuda itu berlari sangat cepat

·         Ibuku bertemu bu Lurah di pasar

2.      Kata kerja pasif

Kata kerja pasif adalah kata kerja yang subjeknya berposisi sebagai penderita danumumnya berawalan di- dan ter-.

Contoh:

·         Bunga itu disirami oleh Mirna tiap pagi

·         Bola ditendang Andi hingga keluar gawang

·         Adi terlempar dari sepedanya

·         Kami terdampar di pulau, karena perahu yang kami tumpangi rusak

d)     Berdasarkan bentuk lain

Kata kerja dapat pula dibagi menjadi 3 kelompok dalam bentu lainnya yaitu kata kerja benefaktif, reflektif, dan resiprok.

1.      Kata kerja benefaktif

Kata kerja benefaktif adalah kata kerja yang menunjukkan pekerjaan atau tindakan yang dilakukan untuk orang lain.  Kata kerja benefaktif umumnya memiliki imbuhan me- dan -kan. Contoh:

·         Adi biasanya menyeberangkan nenek itu

·         Mirna membuatkan kue ulang tahun untuk adiknya

·         Erna membelikan baju baru untuk Ibunya

·         Erni memandikan kucing persianya setiap minggu

2.      Kata kerja reflektif

Kata kerja reflektif adalah kata kerja yang menunjukkan perbuatan untuk dirinya sendiri. Kata kerja reflektif umumnya menggunakan imbuhan me-, atau ber-. Contoh :

·         Mirna biasa merias diri sebelum berangkat ke kantor

·         Adi mencukur kumisnya setiap hari Jum’at

·         Erna bersembunyi dibalik batu besar

·         Erni berlari di padang rumput

3.      Kata kerja resiprok

Kata kerja resiprok merupakan kata kerja yang menunjukkan perbuatan atau kegiatan yang dilakukan oleh dua orang. Kata kerja ini umumnya tidak boleh diawali oleh kata “saling”, karena maknanya telah menunjukkan “saling”. Kata kerja ini biasanya menggunakan imbuhan ber- dan -an. Contoh :

·         Adi bersalaman dengan kepala sekolah

·         Mirna berpandangan dengan Adi

·         Erna dan Erni berpegangan tangan.

b.      Kelas Nomina

Kelas nomina merupakan kelas kata dalam bahasa Indonesia ditandai oleh tidak dapatnya bergabung dengan kata tidak. Juga sering berfungsi sebagai subjek atau objek dari klausa. Contohnya rumah, kucing, meja dan sebagainya.

Nomina dibagi menjadi 3 yaitu:

a)      Berdasarkan semantis

Nomina ini adalah kata yang merujuk pada nama seseorang, tempat atau juga semua benda dan segala yang dibendakan.

b)      Berdasarkan sintaksis

Nomina ini yaitu menduduki posisi sebagai subjek, objek atau juga pelengkap di dalam kalimat yang predikatnya itu verba. Tidak dapat atau bisa diingkarkan dengan kata tidak dan juga umumnya dapat diikuti oleh adjektiva. Baik itu secara langsung atau juga diantarai oleh kata yang.

c)      Berdasarkan bentuk

Dari segi bentuk nomina ini dapat dibagi menjadi nomina dasar serta nomina turunan.

1.      Nomina dasar

Nomina dasar adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem. Contoh: kucing, ayam, matahari, dll.

2.      Nomina turunan

Nomina turunan adalah nomina yang diturunkan dengan melalui proses afiksasi, perulangan atau juga pemajemukan. Contoh:

·         Pelukis itu tengah asyik melukis di rumahnya. (pelukis: kata kerja dasar ‘lukis’ + imbuhan pe-)

·         Penyair itu tengah membacakan puisinya dengan sepenuh penghayatan. (penyair: kata benda dasar ‘syair’ + imbuhan pe-)

·         Pelari wanita itu berhasil menjadi juara lomba lari maraton tahun ini. (pelari: kata kerja dasar ‘lari’ + imbuhan pe-)

·         Pelawak itu berhasil menghibur penonton dengan humor-humornya yang segar dan jenaka. (pelawak: kata kerja dasar ‘lawak’  + imbuhan pe-)

c.       Kelas Ajektifa

Kelas ajektifa merupakan kata yang menerangkan nomina(kata benda) dan secara umum dapat digabung dengan kata lebih dan sangat. Contohnya beret, pendek, panjang dan sebagainya.

Jenis jenis kata sifat dapat dikelompokkan berdasarkan 3 kategori yaitu (1) semantis, (2) sintaksis, dan (3) bentuk.

a)      Berdasarkan semantis (maknanya)

Menurut maknanya, kata sifat dibagi menjadi dua yakni kata sifat bertaraf dan kata sifat tak bertaraf.

1.      Kata sifat bertaraf (menyatakan kualitas)

Kata sifat bertaraf memiliki beberapa jenis, yakni:

·      Adjektiva pemberi sifat. Yaitu kata sifat yang menerangkan kualitas atau intensitas yang dinilai secara fisik atau mental. Contohnya misalnya bersih, rapi, nyaman.

·      Adjektiva ukuran. Yaitu kata sifat yang menerangkan kualitas yang dapat diukur dengan ukuran kuantitatif (dapat dijelaskan dalam bilangan). Contohnya misalnya: Berat, panjang.

·      Adjektiva Warna. Yaitu kata sifat yang menerangkan warna. Contohnya adalah: Biru, putih

·      Adjektiva Waktu. Yaitu kata sifat yang menggambarkan masa atau periode pada suatu pekerjaan atau peristiwa. Contohnya adalah: sebentar, lama.

·      Adjektiva Jarak: Yaitu kata sifat yang menerangkan ruang antara dua benda atau tempat. Contohnya: Jauh, dekat.

·      Adjektiva Sikap. Yaitu kata sifat yang menerangkan emosi atau suasana hati. Contohnya adalah: Bahagia, sedih, marah.

·      Adjektiva Serapan. Yaitu kata sifat yang menunjukkan sesuatu yang dapat dirasakan oleh panca indera. Contohnya seperti: Pahit, manis, asam, bau.

2.      Kata sifat tak bertaraf

Kata sifat (adjektiva) tak bertaraf yang menyatakan keanggotaan dalam suatu golongan.

Contoh : abadi, bundar.

b)      Berdasarkan sintaksis

Jenis kata sifat menurut sintaksis atau letak/fungsinya pada kalimat, antara lain:

·      Adjektiva atributif adalah kata sifat yang menjadi subjek, objek atau penjelas subjek. Terletak di belakang/setelah kata benda.

Contoh : payung hitam, tenda biru

·      Adjectiva predikatif adalah kata sifat yang berkedudukan sebagai predikat.

Contoh : Istana baru itu sangat megah.

·      Adjektiva adverbial adalah adjektiva yang merupakan keterangan atau pelengkap dari adjektiva utama. Adapun polanya yaitu :

… … (dengan) + (se-) + adjektiva + (-nya)

Contoh : Bersikaplah dengan sewajarnya.

Perulangan adjektiva

Contoh : Ingat baik-baik.

c)      Berdasarkan bentuk

·      Adjektiva dasar (monomorfemis) yaitu kata sifat yang belum mengalami proses afiksasi atau penambahan imbuhan.

Contoh : asam, cantik, tinggi

·      Adjektiva turunan (polifermis) yaitu kata sifat yang sudah mengalami proses afiksasi/penambahan imbuhan, pengulangan/reduplikasi, penyerapan, dan pemajemukan.

o  Afiksasi (penambahan imbuhan) yaitu kata sifat yang sudah ditambah imbuhan.

o  Prefiks : se- dan ter- (seperti : secantik, terbaik)

o  Infiks : -em- (seperti : gemetar, gemuruh)

o  Reduplikasi (pengulangan) yaitu kata sifat yang terbentuk dari proses pengulangan/reduplikasi pada kata. Contoh : sebaik-baiknya, sepandai-pandainya, compang camping, gelap gulita, warna warni.

o  Kata sifat majemuk (pemajemukan) yaitu kata sifat yang terbentuk dari penggabungan kata yang membentuk makna baru atau makna konotasi yang merujuk pada sifat suatu benda atau objek.

– gabungan sinonim atau antonim (seperti : cerah ceria, baik buruk)

– gabungan morfem terikat (seperti : serba guna, adidaya)

– gabungan morfem bebas (seperti : baik budi, lapang dada, busung lapar)

·      Kata sifat serapan adalah kata sifat yang berasal dari bahasa asing dan diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Sufiks -i, -iah, -wi. Contoh : alami, duniawi, alamiah.

Sufiks -if, -al, -is. Contoh : aktif, struktural, teknis

2)      Kriteria fungsi

Kriteria fungsi dapat digunakan untuk mengidentifikasi kelas kata sebagai berikut :

a.      Kelas Adverbial

Kelas adverbia merupakan kata yang memberikan keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif atau kalimat. Contohnya sangat, lebih, dan tidak.

Goris Keraf membagi kata keterangan menjadi 14 jenis:

·      Keterangan kualitatif: “ia berjalan perlahan-lahan”.

·      Keterangan waktu: sekarang, nanti, kemarin, kemudian, sesudah itu, lusa, sebelum, minggu depan.

·      Keterangan tempat: di sini, di situ, ke sana, ke mari.

·      Keterangan modalitas: memang, pasti, sungguh, tentu, tidak, bukan, benar, sebenarnya, mungkin, rasanya, mudah-mudahan, hendaknya, jangan, mustahil.

·      Keterangan aspek: sedang, sementara, sudah, telah, sering, biasa.

·      Keterangan derajat: amat, hampir, kira-kira, sedikit, cukup, hanya, satu kali.

·      Keterangan kesertaan: bersama.

·      Keterangan syarat: jika, seandainya.

·      Keterangan perlawanan: meskipun, meski, jika.

·      Keterangan sebab: sebab, karena, oleh karena.

·      Keterangan akibat: sehingga.

·      Keterangan tujuan: supaya, agar, untuk, hendak.

·      Keterangan perbandingan: sebagai, seperti, bagaikan.

·      Keterangan perwatasan: kecuali, hanya.

b.      Kelas Pronominal

Kelas pronomina merupakan kata yang digunakan untuk menggantikan orang atau benda. Contohnya aku, engkau, dan dia.

Pembagian pronomina dalam bahasa Indonesia didasarkan pada dua hal yaitu dilihat dari hubungannya dengan nomina dan jelas tidaknya referennya.

a)      Berdasarkan hubungannya dengan nomina

1.      Pronomina Intratekstual

Yaitu kata ganti yang menggantikan nomina yang terdapat dalam wacana. Contoh:

·      Mang Ujang penjaga kebun ayah, Rumahnya tidak begitu jauh dari kebun itu.

·      Dengan gayanya yang lemah lembut, Suyanti membujuk anak itu.

·      Dengan tutur katanya yang sopan, Kak Sutari menyambut tamu yang datang.

2.      Pronomina Ekstratekstual

Yaitu kata ganti yang menggantikan nomina yang terdapat diluar wacana. Contoh:

·      Itu yang ku baca.

·      Kamu yang memetiknya.

·      Engkau jangan tidur.

b)      Berdasarkan jelas tidaknya referennya

1.      Pronomina Takrif

Pronomina takrif ialah pronomina yang menggantikan nomina yang referennya jelas. Contohnya pronominal persona.

2.      Pronomina tak Takrif

Pronomina tak takrif ialah ronomina yang tidak menunjuk pada orang atau benda tertentu.

c.       Kelas Numeralia

Kelas numeralia merupakan kata yang menyatakan bilangan, jumlah, nomor, urutan, dan himpunan. Contohnya satu, dua, tiga dan sebagainya.

Numeralia dibagi menjadi 2 yaitu:

a)      Numeralia takrif (kata bilangan tentu)

Kata bilangan tentu atau takrif adalah kata bilangan yang menyatakan jumlah. Kata bilangan tentu ini dibagi menjadi dua yaitu kata bilangan utama dan kata bilangan tingkat.

1.      Kata bilangan utama

Kata bilangan utama adalah kata bilangan yang menyatakan jumlah angka. Kata bilangan utama dibagi menjadi 3 yaitu kata bilangan penuh, kata bilangan pecahan, dan kata bilangan gugus atau pengelompokan bilangan.

·      Kata bilangan penuh

Kata bilangan penuh adalah kata bilangan utama yang bisa berdiri sendiri tanpa tambahan kata lain. Kata bilangan penuh bisa dihubungkan langsung dengan kata satuan untuk waktu, uang, ukuran, berat, isi dan lain sebagainya.

Contoh kata bilangan penuh yakni Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima puluh ribu, Dua puluh lima ribu, Satu miliar, Lima triliun, Delapan jam, Tiga biji, Delapan buah, Tujuh kilogram, Lima detik dan lain-lain.

·      Kata bilangan pecahan

Kata bilangan pecahan adalah kata bilangan yang terdiri dari pembilang dan penyebut dan ditambahkan partikel per-. Contoh kata bilang pecahan diantaranya yaitu ½ = setengah/separuh, ¾ = tiga per empat, ¼ = seperempat, dan lain sebagainya.Kata bilangan pecahan menyatakan pembagian dari bilangan yang utuh.

·      Kata bilangan gugus atau pengelompokan bilangan

Kata bilangan gugus adalah kata yang digunakan untuk sekelompok jumlah satuan benda atau lainnya. Kata bilangan gugus digunakan untuk menyatakan jumlah dalam satu kelompok atau sebutan kumpulan waktu.

Contoh kata bilangan gugus yaitu 1 gros = 12 lusin, 1 lusin = 12 biji, 1 kodi = 20 biji, 1 minggu = 7 hari, 1 tahun = 12 bulan, 1 abad = 100 tahun, 1 windu = 8 tahun, dan lain sebagainya.

2.      Kata bilangan tingkat

Kata bilangan tingkat adalah kata yang melambangkan urutan jumlah atau tingkatan sesuatu. Kata bilangan tingkat memiliki struktur ke + numerik. Kata bilangan tingkat digunakan dalam menyatakan urutan orang, barang, tempat, atau lainnya yang menunjukkan posisi mulai dari teratas atau terbawah. Contoh kata bilangan bertingkat seperti Kesatu, Kedua, Ketiga, Keempat, Kelima, Kesepuluh, Keseratus, Keseribu dan lain sebagainya.

b)      Numeralia tak takrif (kata bilangan tak tentu)

Kata bilangan tidak tentu atau tidak takrif adalah kata bilangan yang menyatakan jumlah sesuatu yang relatif dan memiliki satuan yang tidak tentu. Contoh kata bilangan tidak takrif diantaranya seperti: Banyak, Sedikit, Semua, Seluruh, Beberapa, Sebagian, Segenap, Suatu, Segala, dan lain sebagainya.

Kata bilangan tidak tentu digunakan untuk menyebutkan benda yang tidak bisa dihitung jumlahnya, Contohnya seperti gula, garam, air, beras, dan lainnya atau bisa juga ditujukan pada objek yang berjumlah banyak dan dengan menggeneralisasikan sebutan bagi objek tersebut menjadi satu kesatuan.

d.      Kelas Partikel (kata tugas)

Kelas partikel merupakan kata yang biasanya tidak dapat diderivasikan  atau diinfleksikan, mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal, termasuk didalamnya artikel, konjungsi, preposisi,dan interjeksi.

Menurut peranannya, kata tugas dibedakan atau diklasifikasi menjadi lima jenis subkelompok, antara lain:

a)      Kata Depan (preposisi)

Kata depan merupakan kata yang merangkai kata atau bagian kalimat yang diikuti oleh nominal atau pronominal atau kata yang menyambungkan kata benda dengan bagian kalimat. Seringkali, kata depan yang fungsinya untuk mengantar suatu objek penyerta kalimat dan tidak dapat mengantarkan subjek kalimat.

Contoh kata depan yang seringkali dikenal antara lain di, ke dan dari. Kata depan di, ke dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali dalam gabungan kata yang sudah dianggap satu kata seperti kata kepada dan daripada. Contoh kata depan yang selain diatas adalah dalam, antara, atas, kepada, akan, terhadap, oleh, dengan, sampai, untuk dan lain sebagainya.

b)      Kata Hubung / Sambung (Konjungsi)

Kata penghubung/sambung (konjungsi) adalah kata yang fungsinya untuk penghubung antara satu kata dengan kata lainnya dalam suatu kalimat ataupun satu kalimat dengan kalimat lain dalam suatu paragraf.

c)      Kata Seru (Interjeksi)

Kata seru merupakan jenis kata yang dipakai untuk mengungkapkan atau menegakkan isi perasaan penulis atau pembicara. Perasaan yang dimaksud dapat dalam bentuk perasaan sedih, gembira, kagum, terkejut, dan lain-lain. Contohnya seperti:

Wah, cantik sekali bunga ini! (Kekaguman)

Semoga hari ini tidak hujan! (Harapan)

d)     Kata Sandang (Artikula)

Kata sandang atau artikula merupakan kata yang tidak mempunyai arti yang dipakai untuk menerangkan kata benda atau kata tertentu. Kata sandang dapat dipakai untuk mendampingi kata benda dasar ataupun kata benda turunan atau kata tertentu lainnya.

Seringkali kata sandang berada sebelum kata benda yang dijelaskannya. Contoh kata sandang antara lain: yang, sang, kaum, para, si, hang, dang, dan lanin sebagainya.

e)      Partikel Penegas

Partikel penegas merupakan kelas kata dalam bahasa Indonesia yang tidak dapat berdiri sendiri dan harus dihubungkan dengan kata lain dalam penggunaanya. Contoh partikel penegas antara lain: -kah, -lah, -pun dan lain-lain.

Comments

Popular posts from this blog

Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), Akar, dan Leksem

FILSAFAT BAHASA

FUNGSI DAN PERANAN ORGANISASI ASOSIASI KEPROFESIAN