JENIS-JENIS MORFEM
Morfem adalah kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan yang dapat dibedakan artinya (Keraf, 1984: 52). Berikut adalah jenis-jenis morfem.
1). Apabila ditinjau
dari segi bentuknya dapat dibedakan menjadi:
a. Morfem Bebas
Morfem bebas adalah
morfem yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti tanpa harus dihubungkan
dengan morfem lain. Semua kata dasar tergolong sebagai morfem bebas. Misalnya
buku, pensil, meja, rumah dan sebagainya. Contoh-contoh di atas dikatakan
morfem karena merupakan bentuk terkecil yang dapat berdiri sendiri dan
mempunyai arti. Apabila bentuk itu kita pecah lagi, sehingga menjadi bu- ku,
me- ja, pen- sil, ru- mah, dan seterusnya, maka bentuk bu- dan bentuk ku tidak
mempunyai arti. Dengan demikian bentuk buku, meja, pensil dan rumah tidak dapat
dipecah lagi. Bentuk yang demikian itilah yang disebut morfem bebas.
b. Morfem Terikat
Morfem terikat
adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dan tidak mempunyai arti. Makna
morfem terikat baru jelas setelah morfem itu dihubungkan dengan morfem yang
lain. Semua imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta kombinasi awalan dan
akhiran) tergolong sebagai morfem terikat. Selain itu, unsur-unsur kecil
seperti partikel ku, -lah, -kah, dan bentuk lain yang tidak dapat berdiri
sendiri, juga tergolong sebagai morfem terikat.
Morfem terikat apabila ditinjau dari segi
tempat melekatnya dapat dibedakan menjadi:
Prefiks (awalan) :
me-, ber-, ter-, di-, ke-, pe-, per-, se-
Infiks (sisipan) : -em, -el, er-
Sufiks (akhiran) : -an, -i, -kan, -nya, -man, -wati, -wan,
-nda
Konfiks
(gabungan) : ke+an, pe+an, per+an, me+kan, di+kan,
me+per+kan, di+per+kan, me+per+i,
di+per+i, ber+kan, ber+an.
Morfem terikat apabila ditinjau dari asal
usulnya, maka dapat dibedakan menjadi :
Morfem terikat asli bahasa Indonesia ; lihat
contoh-contoh di atas.
Morfem terikat dari bahasa asing, misalnya ;
o Bahasa Jawa : tuna, tata, daya, wawan,
pramu, sarwa.
o Bahasa Sansekerta : pra, swa, maha, pri, wan, man, wati
Berkenaan dengan bentuk dasar terikat, perlu
dikemukakan catatan sebagai berikut:
Pertama, bentuk dasar
terikat seperti gaul, juang, dan henti lazim juga disebut bentuk prakategorial karena bentuk-bentuk
tersebut belum memiliki kategori sehingga tidak dapat digunakan dalam
pertuturan.
Kedua, Verhaar (1978) juga memasukan bentuk-bentuk
seperti beli, baca, dan tulis kedalam
kelas kelompok prakategorial, karena untuk digunakan didalam kalimat harus
terlebih dahulu diberi prefiks me-,
prefiks di-, atau prefiks ter-. Dalam kalimat imperatif memang
tanpa imbuhan bentuk-bentuk tersebut dapat digunakan. Namun, Menurut
Verhaar(1978) kalimat imperatif adalah
kalimat ubahan dari kalimat deklaratif. Dalam kalimat deklaratif aktif harus digunakan prefik inflektif me- , dalam kalimat deklaratif pasif
harus digunakan prefik inflektif di- atau
ter, sedangkan dalam kalimat
imperatif , juga dalam kalimat pasif, harus digunaan prefik inflektif
Ketiga, bentuk-bentuk
seperti renta (yang hanya muncul
dalam tua renta), dan kuyup (yang hanya muncul dalam basah kuyup) adalah juga termasuk morfem
terikat. Lalu, oleh karena hanya muncul pada pasangan tertentu, maka disebut
morfem unik.
Keempat, bentuk-bentuk yang
disebut klitika merupakan morfem yang aga sukar ditentukan statusnya, apakah
morfem bebas atau morfem terikat. Kemunculannya dalam pertuturan selalu terikat
dengan bentuk lain, tetapi dapat dipisahkan. Umpamanya klitika ku dalam konstruksi bukuku dapat dipisahkan sehingga menjadi
buku baruku. Dilihat dari posisi
tempatnya dibedakan adanya proklitika, yaitu klitika yang berposisi di muka
kata yang diikuti seperti klitika ku-
dalam bentuk kubawa dan kuambil. Sedangkan yang disebut
enklitika adalah klitika yang berposisi dibelakang kata ang dilekati, seperti
klitika –mu dan -nya
pada bentuk nasibmu dan duduknya
Sedangkan yang disebut enklitika adalah klitika
yang berposisi dibelakang kata yang dilekati, seperti klitika mu dan nya pada bentuk nasibmu dan
duduknya.
Kelima, bentuk-bentuk yang
termasuk preposisi dan konjungsi seperti dan,
oleh, di, dan kerena secara
morfologis termasuk morfem bebas, tetapi secara sintaksis merupakan bentuk
terikat (dalam santuan sintaksinya).
Keenam, bentuk-bentuk yang
oleh Kridalaksana (1989) disebut proleksem, seperti a(pada asusila), dwi (pada dwibahasa), dan ko (pada kopilot) juga termasuk morfem terikat.
2). Apabila ditinjau
dari segi keutuhaannya dapat dibedakan menjadi:
a.
Morfem Utuh
Morfem Utuh yaitu morfem yang merupakan satu
kesatuan yang utuh. Semua morfem dasar, baik bebas maupun terikat, serta
prefiks, infiks, dan sufiks, termasuk morfem utuh. Misalnya, meja, kursi,
rumah, henti, juang, dan sebagainya.
b.
Morfem Terbagi,
Morfem Terbagi yaitu morfem yang merupakan dua
bagian yang terpisah atau terbagi. Misalnya, pada kata satuan (satu) merupakan
morfem utuh dan (ke-/-an) adalah morfem terbagi. Semua afiks dalam bahasa
Indonesia termasuk morfem terbagi. Namun, mengenai morfem terbagi ini ada dua
catatan yang perlu diperhatikan. Semua konfiks adalah morfem terbagi; tetapi
pada bentuk ber-an ada yang berupa
konfiks dan yang bukan konfiks misalnya, ber-an
pada kata berpakaian dalam kalimat sebelum
berpakaian ia mandi dulu bukan konfiks yang dalam buku ini disebut klofiks (akronim dari kelompok afiks);
tetapi ber-an pada kata bermunculan pada kalimat penyanyi baru
banyak bermunculan pada tahun-tahun
ini adalah sebuah konfiks.
Dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut
infiks yaitu afiks yang ditempatkan ditengat (di dalam kata) umpamanya infiks el pada dasar tunjuk menjadi kata telunjuk.
Disini infiks itu memecah morfem tunjuk
menjadi dua bagian, yaitu t-el-unjuk.
Dengan demikian morfem terbagi, dan bukan morfem utuh.
3). Apabila ditinjau
dari segi maknanya dapat dibedakan menjadi:
a.Morfem Bermakna
Leksikal
Morfem Bermakna
Leksikal yaitu morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada
dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dengan morfem lain. Misalnya,
morfem-morfem seperti (kuda), (pergi), (lari), dan sebagainya adalah morfem
bermakna leksikal. Morfem-morfem seperti itu sudah dapat digunakan secara bebas
dan mempunyai kedudukan yang otonom dalam pertuturan.
b.Morfem Tak
Bermakna Leksikal
Morfem Tak Bermakna
Leksikal yaitu morfem-morfem yang tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya
sendiri sebelum bergabung dengan morfem lainnya dalam proses morfologis.
Misalnya, morfem-morfem afiks (ber-), (me-), (ter-), dan sebagainya.
Dikotomi morfem
bermakna leksikal dan tidak bermakna leksikal ini, untuk bahasa Indonesia
timbul masala. Morfem-morfem seperti {juang}, {henti}. Dan {gaun} memiliki
makna leksikal atau tidak. Kalau
dikatakan memiliki makna leksikal, pada
kenyataannya morfem-morfem itu belum dapat digunakan dalam pertuturan sebelum
mengalami proses mofologi. Kalau dikatakan bermakna leksikal, pada kenyataannya
morfem-morfem tersebut bukan afiks.
Dalam hal ini
barangkali perlu dibedakan antara konsep atau kategori gramatikal dengan kategori
semantik. Secara gramatikal bentuk
tersebut memang tidak dapat langsung digunakan dalam sebuah pertuturan.
Namun, secara semantik bentuk-bentuk tersebut tetap memiliki makna leksikal.
Ada satu masalah
lagi berkenaan dengan morfem bermakna leksikal ini, yaitu morfem-morfem yang
berkategori gramatikal sebagai preposisi dan konjungsi. Banyak pakar seperti
(Keraf 1986 dan Parera 1988) yang menyatakan bahwa kelas-kelas preposisi dan
konjungsi tidak memiliki makna leksikal, dan hanya mempunyai fungsi gramatikal.
Sebenarnya sebagai morfem dasar, dan bukan afiks, semua morfem prefosisi dan
konjungsi memiliki makna leksikal. Namun, kebebasannya dalam pertuturan memang
terbatas. Meskipun keterbatasannya tidak seketat morfem afiks. Dalam morfologi
morfem-morfem yang termasuk preposisi dan onjungsi memiliki kebebasan seperti
morfem bebas lainnya; hanya secara sintaksis keduanya terikat pada satuan
sintaksisnya.
4.) Apabila ditinaju
dari segi jenis fonem yang membentuknya.
a.Morfem segmental
Morfem Segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem
segmental seperti morfem {lihat}, {lah}, {sikat}, dan {ber}. Jadi semua morfem
yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental
adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmenntal seperti tekanan,
nada, durasi, dan sebagainya. Misalnya, dalam bahasa Ngbaka di Kongo Utara di
benua Afrika, setiap verba selalu disertai dengan petunjuk kala (tense) yang
berupa nada. Aturannya, nada turun ( \ ) untuk kala ini, nada datar ( - ) untuk
kala lampau, nada turun naik( \/ )
untuk kala nanti, dan nada naik ( / ) unuk bentuk imperatif. Bahasa yang
memiliki morfem suprasegmental di antaranya adalah bahasa Burma, Cina, dan
Thailand.[2] Sedangkan Bahasa Indonesia tidak memiliki morfem suprasegmental.[2]
5). Morfem
Beralomorf Zero
Dalam linguistik
deskriptif, ada konsep mengenai morfem beralomorf zero atau nol (lambangnya
berupa Ø),yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi
segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa kekosongan.
Bentuk tunggal: I
have a book ; I have a sheep
Bentuk jamak: I have
two books ; I have two sheep
Kata kini : They
call me; They hit me
Kata lampau : They
called me ; They hit me
Bentuk tunggal untuk
book adalah books dan bentuk jamaknya adalah books; bentuk tunggal untuk sheep
adalah sheep dan bentuk jamaknya adalah sheep juga. Karena bentuk jamak untuk
books terdiri dari dua buah morfem, yaitu morfem {book} dan morfem {-s}, maka
dipastikan bentuk jamak untuk sheepadalah morfem {sheep} dan morfem {Ø}. Dengan
demikian bisa dikatakan bahwa {Ø} merupakan salah satu alomorf dari morfem
penanda jamak dalam bahasa Inggris.
Comments
Post a Comment