HAKIKAT DAN CIRI KATA
Menurut Chaer (2008: 63) Kata merupakan bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologi yang stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat. Dengan kata lain, kata merupakan adanya sebuah unit bahasa yang dapat mengandung makna dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Kemudian menurut Abdul Chaer (2008: 63-104) klasifikasi kata dibagi menjadi 2 yaitu : 1) klasifiksi kata kelas terbuka dan 2) klasifiksi kata kelas tertutup. Kelas terbuka terdiri dari nomina, verba dan ajektifa, sedangkan kelas tertutup terdiri dari adverbia, pronomina, numeralia, preposisi, konjungsi, artikulus, interjeksi, dan partikel.
Pengkategorian kata yang dibagi menjadi kelas kata
terbuka dan kelas kata tersebut memiliki beberapa bagian yang memiliki fungsi
yang berbeda-beda. Hal tersebut terkadang membuat tidak semua peserta didik
dapat mengklasifikasikan kata dengan tepat dan tidak memahaminya dengan benar.
Hakikat
dan Ciri Kata
Istilah kata sering kita dengar dan sering
kita gunakan, Malah barangkali kata kata ini hampir setiap hari dan setiap saat
selalu kita gunakan dalam segala kesempatan dan untuk segala keperluan. Namun, kalau
ditanya apakah kata itu? Maka jawabnya barangkali tidak Semudah menggunakannya,
Para linguis yang sehari-hari bergelut dengan kata ini, hingga dewasa ini,
kiranya tidak pernah mempunyai kesamaan pendapat mengenai konsep apa yang
disebut kata itu .
Menurut
Crystal (1980:383-385), kata adalah satuan ujaran yang mempunyai pengenalan
intuitif universal oleh penutur asli, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan.
Sedangkan menurut Menurut Chaer (2008:
63) Kata merupakan bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologi yang stabil
dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat.
Dengan kata lain, kata merupakan adanya sebuah unit bahasa yang dapat
mengandung makna dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Kemudian menurut Abdul Chaer (2008:
63-104) klasifikasi kata dibagi menjadi 2 yaitu : 1) klasifikasi kata kelas
terbuka dan 2) klasifikasi kata kelas tertutup. Kelas terbuka terdiri dari
nomina, verba dan ajektifa, sedangkan kelas tertutup terdiri dari adverbia,
pronomina, numeralia, preposisi, konjungsi, artikulus, interjeksi, dan
partikel.
Para
tata bahasawan tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata
berdasarkan arti dan ortografi. Menurut mereka kata adalah satuan bahasa yang memiliki
satu pengertian ; atau kata adalah
deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti,
Dalam kajian bahasa Arab malah dikatakan kata-kata dalam bahasa Arab biasanya terdiri dari tiga huruf.
Pendekatan arti dan Ortografi dari tata bahasa tradisional ini banyak
menimbulkan masalah. Kata-kata seperti sikat, kucing, dan spidol memang bisa
dipahami sebagai satu kata; tetapi bentuk-bentuk seperti matahari, tiga puluh,
dan luar negeri apakah sebuah kata, ataukah dua buah kata, bisa diperdebatkan
orang. Pendekatan ortografi untuk bahasa-bahasa yang menerunakan huruf Latin,
bisa dengan mudah dipahami, meskipun masih timbul persoalan. Pendekatan
ortografi ini agak sukar diterapkan untuk bahasa yang tidak menggunakan huruf
Latın, sebab misalnya, bagaimana kita harus menentukan spasi pada aksara Cina,
Jepang, atau juga aksara Arab.
Para tata bahasawan struktural, terutama
penganut aliran Bloomfield, tidak lagi membicarakan kata sebagai satuan
lingual; dan menggantinya dengan satuan yang disebut morfem. Mereka membahas
morfem ini dari pelbagai segi dan pandangan. Tetapi tidak pemah mempersoalkan
apakah kata itu. Batasan kata yang dibuat Bloomfield sendiri, yaitu kata adalah
satuan bebas terkecil, pendapat tersebut tidak pernah diulas atau dikomentari,
seolah-olah batasan itu sudah bersifat final. Para linguis setelah Bloomfield
juga tidak menaruh perhatian khusus terhadap konsep kata. Malah tata bahasa
Generatif Transformasi, yang dicetuskan dan dikembangkan oleh Chomsky, meskipun
menyatakan kata adalah dasar analisis kalimat, hanya menyajikan kata itu dengan
simbol-simbol V (verba),N (nomina), A (ajektiva), dan sebagainya. Tidak
dibicarakannya hakikat kata secara khusus oleh kelompok Bloomfield dan
pengikutnya adalah karena dalam analisis bahasa, mereka melihat hierarki bahasa
sebagai: fonem, morfem, dan kalimat. Berbeda dengan tata bahasa tradisional
yang melihat hierarki bahasa sebagai: kata, dan kalimat.
Batasan
kata yang umum kita jumpai dalam berbagai buku linguistik Eropa adalah bahwa kata
merupakan bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan
tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat.
Batasan tersebut menyiratkan dua hal. Pertama, bahwa setiap kata mempunyai
susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah, serta tidak dapat
diselipi atau diselang oleh fonem lain. Jadi, misalnya, kata sikat, urutan
fonemnya adalah /s/, /i/, /k/, /a/, dan /t/. Urutan itu tidak dapat diubah
misalnya menjadi /s/, /k/, /a/, /i/, dan /t/. Atau diselipi fonem lain,
misalnya, menjadi /s/, /i/, /u/, /k/, /a/, dan /t/ Kedua, setiap kata mempunyai kebebasan
berpindah tempat di dalam kalimat, atau tempatnya dapat diisi atau digantikan
oleh kata lain; atau juga dapat dipisahkan dari kata lainnya.
Ciri pertama, kiranya, tidak menimbulkan
masalah; tetapi ciri kedua menimbulkan masalah. Misalnya, kalimat Nenek
membaca komik itu kemarin. Kalimat itu terdiri dari lima buah kata, yaitu
nenek, membaca, komik, itu, dan kemarin. Setiap kata mempunyai susunan dan
urutan fonem yang tetap dan tidak dapat diubah tempatnya. Sebaliknya, posisi
setiap kata dapat dipindahkan, disela, atau dipisahkan. Misalnya, posisi kata
kemarin dapat dipindahkan, umpamanya, menjadi Kemarin nenek membaca komik itu
atau Nenek kemarin membaca komik itu. Sampai di situ tidak ada masalah.
Namun, temyata kita tidak dapat menempatkan kata kemarin di antara kata komik
dan kata itu, sebab konstruksi Nenek membaca komik kemarin itu tidak dapat
diterima. Ini berarti juga, urutan kata komik itu tidak dapat disela atau
disisipi kata lain. Malah, sebenarnya kata itu tidak dapat dipindahkan ke
mana-mana di dalam kalimat tersebut. Contoh yang serupa adalah kata kau dan di
pada deretan kau baca di kamar. Ternyata, kata kau pada deretan itu tidak
dapat dipindahkan, misalnya, menjadi baca kau; kata di juga tidak dapat
dipindah menjadi kamar di. Oleh karena itu, kriteria atau patokan apa yang
harus dipakai untuk menentukan sebuah bentuk adalah kata atau bukan kata.
Berkenaan
dengan otonomi kata untuk dapat berpindah tempat dalam kalimat, ada pakar yang
menyarankan (Van Wijk 1968) supaya diadakan derajat keotonomian secara
morfologis. Misalnya, kata itu pada komik itu, atau kau pada kau ambil,
dan di pada di kamar memang tidak dapat dipisahkan atau dibalikkan susunannya.
Namun, bentuk-bentuk tersebut dapat dipisahkan dalam hubungan subordinatif atau
koordinatif. Bentuk komik itu dapat dipisah dengan memberi keterangan
subordinatif pada kata komik, misalnya, menjadi “Kau yang ambil komik itu atau
nenekmų?” Begitu juga dengan bentuk di kamar dapat dipisah, misalnya, menjadi
baik di maupun dari kamar tidak ada bedanya. Jadi, kata-kata di, ke, dan
yang sekelas dengannya tetap punya otonomi untuk berpindah tempat. Hanya,
derajat keotonomiannya itu tidak sama dengan kata-kata seperti kemarin dan barangkali.
Satu
masalah lagi mengenai kata ini adalah mengenai yang disebut kata sebagai satuan
gramatikal. Menurut Verhaar (1978) bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia,
misalnya, mengajar, diajar, kauajar, terajar, dan ajarlah bukanlah lima buah
kata yang berbeda, melainkan lima buah varian dari sebuah kata yang sama.
Bentuk-bentuk mengajar, pengajar, pengajaran, pelajaran, dan ajaran adalah lima
buah kata yang berlainan. Kalau deretan kata-kata yang terakhir disebut lima
buah kata yang berlainan tentu tidak menjadi persoalan, meskipun anda
barangkali tidak tahu sebabnya. Namun, jika deretan kata yang pertama dikatakan
lima buah varian dari sebuah kata yang sama, tentu menjadi persoalan; dan kita
pun perlu mengetahui alasannya mengapa disebut demikian.
Dalam
bahasa-bahasa berfleksi, seperti bahasa Latin, bahasa Arab, bahasa Italia, dan
bahasa Inggris, setiap kategori kata (Verba, Nomina, Ajektifa, dan sebagainya)
biasanya mempunyai sejumlah bentuk yang sesuai dengan fungsi gramatikal atau
sintaksis kata itu. Kita ambil contoh kata Inggris sing, yang mempunyai bentuk
lain sings, yaitu untuk orang ketiga tunggal. Di samping itu ada pula bentuk
song đan bentuk jamaknya songs. Keempat kata ini, yaitu sing, sings, song, dan
songs bukanlah empat buah kata yang berbeda melainkan hanya dua buah yang
berbeda. Kata sing dan sings adalah dua bentuk dan kata yang sama. Perbedaannya
terletak pada, kata sing untuk orang pertama dan kata sings untuk orang ketiga
tunggal. Kata song dan songs juga bukan dua buah kata yang berbeda, melainkan
sebuah kata yang sama. Perbedaannya, bentuk song adalah untuk tunggal dan songs
untuk jamak. Jadi, secara gramatikal dari deretan empat buah kata Inggris di
atas hanya ada dua buah kata. Bentuk dasar yang menurunkan kata sing dan sings
adalah leksem SING (dalam studi linguistik untuk menyatakan bentuk leksem
selalu digunakan huruf besar). Yang menurunkan kata song dan songs adalah
leksem SONG.
Kalau anda membuka kamus bahasa Inggris untuk
mencari arti kata sings tentu tidak akan ada. Maksudnya, kata sings itu tidak
didaftar sebagai entri. Yang didaftar sebagai entri adalah bentuk sing, yaitu
bentuk dasamya atau leksemnya. Kata yang didaftar sebagai entri di dalam kamus
lazim dikenal dengan nama "bentuk kutip" (citation form).
Sejalan
dengan keterangan untuk kata sing, sings, song, dan itulah kita bisa memahami
kalau Verhaar mengatakan bentuk-bentuk mengajar, diajar, kauajar, terajar, dan
ajarlah adalah lima buah varian dari sebuah kata yang sama. Perbedaan bentuknya
adalah Scsuai dengan kedudukan bentuk-bentuk tersebut di dalam jenis kalimat
yang berbeda: mengajar untuk kalimat aktif transitif; diajar untuk kalimat
pasif berpelaku orang ketiga; kauajar untuk kalimat pasif berpelaku orang
kedua; terajar untuk kalimat pasif yang menyatakan selesai; dan ajarlah untuk
kalimat imperatif. Lalu, kalau bentuk mengajar, pengajar, pengajaran,
pelajaran, dan ajaran dikatakan adalah lima buah kata yang berbeda adalah
karena memang kelima kata itu memiliki identitas leksikal yang berbeda.
Keterangannya sama dengan keterangan untuk menjelaskan bentuk sing, song, dan
singer dalam bahasa Inggris.
Comments
Post a Comment