Hakikat Bahasa
Banyak
teori telah dikembangkan orang mengenai apakah bahasa
itu. Salah satu di antaranya disebutkan bahwa bahasa adalah sebuah sistem lambang yang menghubungkan
dunia makna dengan dunia
bunyi serta terkait erat dengan dunia pragmatik (Chaer, 2009). Kemudian sebagai penghubung antara dunia
makna dengan dunia bunyi
yang terkait erat dengan dunia pragmatic bahasa
itu dibangun oleh tiga
komponen yaitu komponen leksikon, komponen gramatika, dan komponen fonologi. Kalau bahasa itu dikatakan merupakan
satu sistem, maka berarti sistem
bahasa itu memiliki tiga buah subsistem, yaitu subsistem leksikon, subsistem gramatika, dan
subsistem fonologi. Ketiga subsistem
ini terikat pula dengan dunia pragmatik atau dunia konteks dimana bahasa itu digunakan. Dunia makna atau komponen makna berisi
konsep-konsep, ide-ide pikiran-pikiran,
atau pendapat pendapat yang berada dalam otak atau
pemikiran manusia. Komponen makna ini bersifat abstrak tidak dapat diamati secara empiris. Namun,
bisa dikeluarkan melalui alat ucap
ke dalam dunia bunyi, yang merupakan realiasi fisik dari dunia makna atau setelah melalui sistem bahasa
yang bersifat konkret, sehingga
dapat diamati secara empiris. Komponen
leksikon dengan satuannya yang disebut leksem merupakan
wadah penampung makna secara leksikal. Kemudian komponen
leksikon ini diolah oleh komponen gramatika menjadi satuan-satuan yang tidak lagi bermakna
leksikal melainkan bermakna
gramatikal. leksikal
melainkan menjadi Komponen gramatika atau subsistem gramatika
terbagi dua, yang subsistem
morfologi dan subsistem sintaksis. Subsistem morfologi bertugas mengolah komponen leksikon
menjadi "kata" yang bersifat gramatikal.
Sedangkan subsistem sintaksis bertugas mengolah kata kata hasil olahan subsistem morfologi
menjadi satuan-satuan sintaksis, seperti
frase, klausa, dan kalimat. Satuan-satuan sintaksis ini akan diolah oleh subsistem fonologi menjadi
wujud-wujud fisis dalam durian
bunyi, yang bersifat konkret karena dapat diamati secara empiris melalui pendengaran. Namun, dunia makna itu yang sudah
direalisasikan menjadi dunia bunyi,
masih terikat lagi dengan dunia pragmatik, yakni konteks dimana ujaran tersebut
digunakan. Misalnya, ujaran yang berb "sudah
hampir pukul dua belas" secara gramatikal bermakna menyatakan saat atau waktu; tetapi kalau
diujarkan oleh seorang ibu putri pada suatu malam kepada seorang pemuda
yang masih bertamu, maka
ujaran itu bermakna bahwa si ibu asrama memperingatkan
si pemuda bahwa hari sudah malam, dan si pemuda diminta
segera pulang. Maknanya berbeda dengan kalau ujaran tersebut diucapkan oleh seorang ustad
siang hari ditujukan kepada para santri di suatu pesantren. Maknanya
adalah bahwa si ustad memberitahukan
para santri agar bersiap-siap untuk melaksanakan shalat
dzuhur. Di, dunia makna yang direalisasikan ke dalam dunia bunyi melalui sistem bahasa masih harus
terikat pula dengan dunia pragmatic Dalam kajian linguistik yang berbau
strukturalis, bahasa lazim didefinisikan
sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer
Lalu, definisi ini ditambahkan dengan kata-kata yang berkenaan dengan fungsi bahasa, yaitu
"yang digunakan oleh manusia
untuk berkomunikasi atau berinteraksi" (Chaer, 2012: 32).
Dari
definisi bagian pertama dapat ditarik beberapa hal yang merupakan ciri-ciri hakiki dari bahasa
tersebut. Ciri-ciri itu adalah:
(1)
Bahasa adalah Sebuah Sistem
Dalam
kehidupan sehari-hari kata sistem sudah biasa digunakan
dengan makna 'cara' atau 'aturan seperti dalam kalimat "Kalau tahu sistemnya tentu mudah
mengoperasikannya." Namun dalam
kaitannya dengan keilmuan kata sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi Sistem
ini dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan lainnya saling berhubungan secara
fungsional sehingga menjadi
bermakna. Bila tidak demikian maka sistem tersebut tidak bermakna atau berfungsi. Sebagai susunan yang teratur dan berpola
dari sejumlah komponen, kalau
keteraturan itu tidak sebagaimana mestinya maka sistem itu pun tidak berfungsi atau bermakna.
Umpamanya di dalam bahasa Indonesia
fungsi objek selalu berada langsung sesudah predikat; tetapi kalau objek itu berada sebelum
predikat maka struktur kalimat menjadi
tidak fungsional. Begitu pula kalimat interogatif bahasaBelanda selain
intonasi, maka predikat (P) ditempatkan sebelum subjek
(S), jadi sebagai kalimat inversi.
Jan
werk in Amsterdam (kalimat berita)
Werk
Janin Amsterdam (kalimat tanya)
Bila
tidak diinversi, maka kalimat tersebut tidak berfungsi sebagai kalimat tanya dalam bahasa Belanda. Hal
ini tentu berbeda dengan struktur
bahasa Indonesia, yang struktur kalimat tanya bisa sama dengan struktur kalimat
berita, asal saja diberi intonasi kalimat tanya. Sebagai
sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan bersifat sistemis. Bersifat sistematis artinya,
bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak atau
sembarangan. Sedangkan yang dimaksud sistemis, artinya bahasa itu bukan
merupakan sistem tunggal melainkan
terdiri dari sejumlah
subsistem. Subsistem bahasa itu adalah subsistem
fonologi, subsistem morfologi, dan subsistem sintaksis. Dalam subsistem fonologi bahasa
Indonesia ada aturan atau kaidah bahwa
fonem /m/ dan fonem /p/ berada pada batas silabel pada sebuah kata. Sedangkan dalam bahasa Jawa
fonem /m/ dan fonem /p/
itu berada berurutan pada sebuah silabel. Kemudian, pada subsistem morfologi bahasa Indonesia ada
kaidah atau aturan bahwa nomina pelaku dibentuk dengan prefiks
pe-, sedangkan nomina proses
dibentuk dengan konfiks pe-an. Selanjutnya, pada subsistem sintaksis ada kaidah bahwa kalimat
imperatif dapat dibentuk dengan hanya
menggunakan verba dasar transitif saja. Subsistem-subsistem
bahasa, khususnya subsistem fonologi subsistem
morfologi, dan subsistem sintaksis tersusun secara hirarkial Artinya, subsistem yang satu terletak di
bawah subsistem yang lain lalu
subsistem yang lain berada pula di bawah subsistem lainnya Subsistem fonologi, morfologi, dan
sintaksis terkait dengan subsisten semantik.
Lalu, subsistem leksikon yang juga diliputi subsisten semantik berada di luar ketiga subsistem
struktural tersebut. Namun subsistem
semantik meliputi semua subsistem bahasa itu. Maksudnya,
semua satuan subsistem itu berkenaan dengan subsistem semantik karena bahasa
adalah penghubung antara dunia
makna dan dunia bunyi.
(2)
Bahasa adalah Lambang Bunyi
Yang
dimaksud dengan lambang di sini adalah sejenis tanda yang digunakan untuk menandai sesuatu
yang lain. Jadi, di sini ada dua
hal yang berkenaan dengan lambang atau simbol ini, yaitu yang melambangkan atau yang menandai, yang
dalam kajian semiotika disebut
penanda (lihat Barthes, 2012). Lalu, yang kedua adalah yang dilambangkan atau yang ditandai, yang
lazim disebut petanda. Namun,
sebelumnya perlu dibicarakan dulu bahwa kata/istilah tanda (sign) merupakan hipernim dari sejumlah
kata yang merujuk pada tanda.
Kata-kata itu adalah gejala, aba-aba, ikon, dan lambang (simbol). Yang dimaksud dengan gejala adalah tanda
akan terjadinya sesuatu, seperti
dalam kalimat "Sejak minggu lalu sudah ada gejala akan terjadi kerusuhan itu." Sedangkan
aba-aba adalah tanda untuk melakukan
atau mengerjakan suatu perbuatan, seperti dalam kalimat, "Aba-aba dalam lomba lari itu
dilakukan dengan bunyi peluit." Kemudian
yang dimaksud dengan ikon adalah sejenis tanda yang "mirip dengan yang dimaksud, seperti
peta lokasi dalam surat undangan
pernikahan, dan sebagainya. Lalu, bagaimana dengan lambang atau simbol? Lambang atau simbol juga sejenis tanda
untuk menandai sesuatu yang
lain. Namun, hubungan penanda dan petanda pada lambang tidak
bersifat alamiah, seperti bunyi geluduk tandanya akan hujan atau rumput-rumput yang basah di halaman
sebagai tanda habis terjadinya
hujan. Penanda dan petanda pada lambang bersifat tidak langsung, seperti warna merah pada
bendera Sang Saka atau Sang merah
putih yang melambangkan keberanian dan warna putih yang melambangkan kesucian. Manusia seperti kata Earns Cassires
(1962) adalah animal symbolicum atau
makhluk bersimbol. Dalam kehidupannya memang dipenuhi dengan simbol-simbol atau
lambang-lambang. Dalam segala segi kegiatan kehidupan manusia penuh dengan
lambang-lambang, yang biasa wujud
apa saja, seperti batu, warna, gambar, dan lain-lain. Sedangkan lambang dalam bahasa berupa
bunyi atau bunyi bahasa sebagai
hasil produksi alat-alat ucap manusia Ferdinand
de Saussure (1916) menggunakan istilah tanda linguistic (sign linguistique) untuk menyebut
lambang bahasa itu. Menurut Saussure
setiap tanda linguistik dibangun oleh dua buah
komponen yaitu (1) komponen signifiant, yang mengartikan, yang menanda atau penanda, yang berwujud bunyi atau
runtunan bunyi bahasa dan (2) komponen signifie, yang diartikan,
yang ditandai, atau petanda
yang berupa konsep yang terkandung di dalam signifie itu. Jadi lambang bahasa itu atau sign
linguistique berupa bunyi ata runtunan
bunyi bahasa beserta konsep makna yang ada di dalamnya. Umpamanya lambang yang berbunyi kuda)
memiliki kompone penanda
berupa runtunan bunyi kuda), dan komponen petanda berupa
konsep sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai
Contoh lain yang berbunyi [air] memiliki lambing penanda
yang berupa runtunan bunyi /al dan Ir, komponen petanda
berupa zat cair yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi, minum,
masak, dan sebagainya. Dengan
demikian bisa disimpulkan bahwa lambang bahasa itu berupa bunyi atau runtunan bunyi yang
memiliki makna. Perlu dicatat
ada lambang bahasa yang referennya bisa diobservasi, seperti Kuda), laut, dan [rumah], tetapi ada
pula yang referennya tidak bisa diobservasi, seperti (keadilan], [kebaikan],
dan [pemalsuan].
3)
Bahasa Itu Arbitrer dan konvensional
Secara
harfiah kata arbitrer bermakna semaunya sewenang
wenang, atau 'tanpa aturan/ketentuan Bila di klik dengan
masalah lambang, maka kata arbitrer ini bermakna bahwa hubungan antara lambang dengan maknanya
tidak bersifat wajib. Oleh
karena itu, kalau ditanyakan mengapa binatang berkaki empat yang biasa dikendarai disebut [kuda]
tidaklah bisa dijawab atau dijelaskan.
Begitu juga mengapa zat cair yang kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari disebut [air);
juga tidak bisa dijelaskan. Memang
ada sejumlah kata yang disebut onomatope, yaitu kata-kata yang dibentuk berdasarkan peniruan
bunyi, seperti kata-katamenggelegar, gukguk, dan mengaum. Namun jumlahnya tidak banyak. Lagipula onomatope ini pun
berbeda dari satu bahasa dengan bahasa
yang lain. Misalnya,, kokok ayam jantan dalam bahasa Sunda adalah kongkorongok, tetapi dalam bahasa
Melayu adalah kukuruyuk. Karena
kearbitreran ini maka banyak lambang bahasa yang memiliki makna lebih dari sebuah, seperti kata
Pacar yang dapat berarti kekasih',
dapat juga inai, pemerah
kuku dan kata [Bandar] yang bisa
bermakna 'kota, 'pelabuhan', dan 'pemilik modal'. Sebaliknya ada pula dua lambang atau lebih yang
memiliki makna yang sama Misalnya
kata betul dan benar memiliki makna yang sama; juga kata (bodoh), [tolol), dan Goblok]
memiliki makna yang sama. Lambang
lambang atau simbol-simbol yang digunakan dalam bidang kegiatan lain pun bersifat arbitrer.
Misalnya, warna merah dalam bendera
Sang Saka bermakna berani, dalam kartu merah dalam olahraga sepakbola bermakna 'pelanggaran
berat'; dalam rambu lalu
lintas bermakna harus berhenti', dan dulu dalam dunia politik bendera merah bermakna 'komunis' Meskipun hubungan antara lambang dengan
maknanya bersifat arbitrer,
tetapi hubungan lambang dan maknanya disikapi oleh para penutur bahasa secara konvensional.
Artinya, mereka akan sepakat tidak
akan melanggar atau mengganggu hubungan lambang dengan maknanya itu. Maka, semua penutur bahasa
Indonesia, misalnya, sepakat
untuk mengatakan bahwa lambang [kuda] memiliki makna sejenis binatang berkaki empat yang
biasa dikendarai'. Bagaimana kalau
misalnya ada anggota penutur yang ingkar akan kesepakatan itu? Yang jelas komunikasi akan menjadi
terhambat atau terganggu Memang
ada kemungkinan seseorang yang punya otoritas untuk. mengubah konvensi itu. Misalnya pada
awal tahun enam puluhan Bung
Karno, presiden pertama RI, melarang penggunaan kata <presiden > selain
untuk menyebut 'kepala negara'
(4)
Bahasa itu Dinamis
Di
dunia ini tidak ada bahasa yang tetap, melainkan selalu berubah dari waktu ke waktu sesuai
dengan perkembangan budaya dan
masyarakat penutur juga akibat perkembangan ilmu danteknologi, Perubahan itu
bisa mencakup semua tataran bahasa, dari fonologi,
morfologi, sintaksis, leksikon, dan semantik. Malah banyak bahasa yang telah punah atau tidak
digunakan lagi karena tidak ada penuturnya
lagi, seperti bahasa Latin dan bahasa Sanskerta. Perubahan
fonologi dalam bahasa Inggris, misalnya dulu bahasa Inggris punya fonem velar frikatif /x/
sekarang tidak ada lagi. Kata <night>
dulu dilafalkan [nxt] kata <drought> dulu dilafalkan (druxt). Dan kata <saw> dulu
dilafalkan [saux]. Sebaliknya dulu bahasa
Inggris tidak punya fonem /z/, tetapi sekarang ada, seperti pada kata < azure >, <measure
>, dan , <tauge>. Dalam
bidang morfologi, dulu yang benar dalam bahasa Indonesia adalah bentuk-bentuk <membom>,
<mentik >, dan <mencat>, tetapi
sekarang yang benar adalah bentuk < mengebom <mengetik>,
dan <mengecat >.
Perubahan
sintaksis kita lihat contoh kalimat bahasa Inggris dari zaman menjelang pujangga Shakespeare
Know
ye this man?
-
Why sings he so loud?
Dalam
bahasa Inggris sekarang konsruksinya adalah
•
Do you know this man
-
Why does he sings so loud?
Tampak
bedanya, pada masa menjelang pujangga Shakespeare kalimat
tanya bahasa Inggris belum
menggunakan kata tanya do atau
does; padahal sekarang harus digunakan Perubahan
dalam bidang leksikon paling banyak terjadi dalam setiap bahasa. Ada kata-kata lama yang
menghilang tidak digunakan lagi banyak
pula kata-kata baru yang muncul. Dalam bahasa Indonesia
dulu ada kata-kata seperti dacin timbangan, kempa, 'cap stempel', dan terban 'runtuh' sekarang
tidak digunakan lagi. Namun, sekarang
banyak kata-kata baru yang dulu tidak ada, seperti kata sinetron, pilkada,
ormas, dan caleg. Dalam
bahasa Inggris banyak juga kata-kata yang dulu ada, tetapi sekarang sudah tidak digunakan lagi.
Misalnya kata <beseem>.
Bab
II: Bahasa Alat Interaksi
Dalam arti to be suitable, kata <wot
> dalam arti 'to know', kata <mammet>
dalam arti 'adoll, dan kata <wherefor> dalam arti why Sebaliknya banyak kata-kata baru
yang muncul sebagai hasil ancintaan
baru. Misalnya <Kleenex > yang berasal dari kata nclean kata <frigidaire > yang
berasal dari kata <frigid > plus Kata air dan kata <telly> yang berasal
dari kata <television>. Perubahan
dalam bidang semantik maksudnya, sebuah kata atau gabungan
kata yang semula bermakna 'A berubah menjadi bermakna
B.
dalam bahasa Inggris, misalnya kata <bead> dulu bermakna doa', tetapi sekarang bermakna 'tasbih'
atau 'batu-batu tasbih', kata <knight
dulu berarti 'pemuda', tetapi sekarang berarti 'ksatria',
dan
kata <selly > dulu berarti bahagia', tetapi sekarang berarti pandir' Dalam
bahasa Indonesia juga terdapat kata yang
maknanya sudah berubah.
Misalnya kata pena dulu bermakna 'bulu angsal tetapi sekarang bermakna 'alat tulis bertinta',
kata ceramah dulu bermaksa cerewet',
tetapi sekarang bermakna 'uraian mengenai satu bidang ilmu di hadapan orang banyak, dan kata
seni dulu bermakna 'air kencing',
sekarang bermakna 'karya halus dan bermutu'.
(5)
Bahasa itu Produktif
Produktif
itu adalah kata sifat yang memiliki makna menghasilkan
terus' atau 'banyak hasilnya'. Lalu, kalau dikatakan bahasa itu produktif, berarti bahwa
satuan-satuan bahasa itu seperti fonem,
morfem, kata, atau pola sintaksis jumlahnya terbatas. Namun, dengan satuan-satuan yang terbatas itu
dapat dibentuk satuan-satuan yang
lebih besar dalam jumlah yang tidak terbatas, umpamanya bahasa Indonesia mempunyai tujuh buah
pola kalimat dasar, salah satu
polanya adalah
FN
+ FV
Keterangan:
FN = frasa nomina
FV
= frasa kerja
Maka
dengan pola FN + FV itu kita dapat membuat kalimat yang jumlahnya tidak terbatas apabila FN
diisi dengan semua nomina yang
ada di dalam kosakata bahasa Indonesia, dan FV diisi oleh semua verba yang ada dalam bahasa
Indonesia. Padahal jumlah verba
dalam bahasa Indonesia adalah terbatas. Menurut informasi kosakata bahasa Indonesia dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia hanya
berjumlah 60.000 buah kata. Contoh
lain, bahasa Indonesia hanya mempunyai 32 buah fonem, terdiri dari 6 fonem vokal, 3 fonem
diftong, dan 22 buah fonem konsonan.
Kita ambil empat fonem, yaitu fonem /i/, /a/, /k/, dan / : ternyata dari empat buah fonem
tersebut kita mempunyai lima buah
kata yang aktual, yaitu kata k-i-t-a, k-a-t-i, k-i-a-t, k-a-l-t, dan k-a-t-a. Di samping itu, ada empat
bentuk yang potensial atau mungkin, yaitu
t-i-k-a, t-a-k-i, a-t-i-k, dan i-t-a-k. Namun,
keproduktifan bahasa ini ada juga batasnya karena terkendala
oleh kaidah-kaidah gramatikal.
(6)
Bahasa itu Bervariasi
Bahasa,
terutama yang penuturnya banyak dan digunakan untuk
berbagai keperluan tentu akan mempunyai variasi atau ragam. Variasi bahasa berkaitan dengan para
penuturnya, sedangkan ragam berkaitan
dengan penggunaannya. Dilihat
dari para penuturnya dapat dibedakan adanya dialek areal dan dialek sosial. Dialek areal
berkenaan dengan wilayah tempat
tinggal para penutur. Misalnya dalam bahasa Jawa ada dialek areal Surabaya, dialek areal
Banyumas Yogyakarta, dan sebagainya. Sedangkan
dialek sosial berkenaan Dengan
tingkat sosial para anggota penutur
bahasa itu. Jadi, ada dialek
sosial masyarakat kelas atas dan dialek sosial masyarakat kelas bawah. Dilihat dari segi penggunaannya untuk
kegiatan tertentu bisa dibedakan, misalnya ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa
niaga, ragam bahasa teknologi, ragam bahasa
hukum, dan sebagainya. Yang
membedakan ragam-ragam bahasa ini biasanya adalah penggunaan
bentuk-bentuk leksikal tertentu dan gaya bahasanya. hukum, bidang niaga, bidang politik, dan
sebagain Jadi, ada kata atau istilah tertentu
yang digunakan dalam bidang Kalau
dilihat dari segi keformalan situasi penggunaannya ada ragam bahasa baku,
formal dan ragam bahasa nonbaku, dan nonformal. Dalam
hal ini malah Martin Joos (1967) membuat tingkat keformalan bahasa itu menjadi lima gaya atau ragam
dari yang paling formal sampai
yang tidak formal. Yaitu ragam baku (frozen), ragam resmi (formal), ragam usaha (konsultatif),
ragam santai (kasual), dan ragam akrab
(intimate). Lihat Chaer, 2010. Dilihat
dari segi lain ada ragam atau bahasa keseharian (ordinary language) yakni ragam bahasa yang
digunakan sehari-hari di dalam masyarakat,
dan ada ragam atau bahasa yang tidak digunakan dalam hidup keseharian, yang biasanya terikat
dengan kaidah-kaidah tertentu.
(7) Bahasa itu Manusiawi
Pada
definisi mengenai bahasa di muka dikatakan bahwa bahasa
itu digunakan oleh manusia sebagai sarana untuk berkomunikasi
atau berinteraksi. Ini berarti yang memiliki bahasa hanya manusia, makhluk lain (hewan)
tidak memiliki bahasa. Namun, makhluk
lain atau hewan itu masing-masing juga memiliki alat untuk berkomunikasi, yang bukan bahasa. Sebagai alat komunikasi milik manusia,
bahasa itu jauh lebih sempurna
bila dibandingkan dengan alat komunikasi hewan.
Comments
Post a Comment