ALIRAN TAGMEMIK
Aliran tagmemik merupakan aliran yang muncul pada periode linguistik strukturalis yang timbul akibat adanya ketidakpuasan atas pemecahan masalah dalam pembahasan periode teori tradisional yang selalu merujuk pada Yunani dan Romawi sementara pada kasus-kasus tertentu ditemukan ketidaksesuaian antara teori yang dirujuk pada linguistik tradisional pada kasus baru.
Tata bahasa tagmemik sendiri memiliki ciri bahwa suatu unsur bahasa merupakan bagian dari hidup manusia, tingkah laku manusia, maka penerapannya akan selalu berkaitan dengan tingkah laku manusia.
A.
ALIRAN TAGMEMIK
Penamaan
teori tagmemik ini berawal dari konsep tagmem. Tagmem adalah bagian dari
konstruksi gramatikal yang memiliki empat macam kelengkapan spesifikasi ciri,
yakni : slot, peran, kelas, dan kohesi. Secara relatif teori ini dikatakan
masih cukup baru. Kebulatan dan kelengkapannya baru terwujud pada tahun 1977
dengan terbitnya buku Grammatical Annalysis karangan Kenneth L. Pike dan Evelyn
G. Pike, sepasang suami istri dari University of Texas, Arlington dan sebagai
direktur SIL (Summer Institute of Linguistics).
Teori
ini terbagi atas 2 generasi. Generasi pertama adalah generasi sebelum GA
(Grammatical Analysis, 1977) dan generasi kedua adalah generasi GA itu sendiri.
Generasi
pertama sebenarnya belum dapat disebut teori tagmemik yang sebenarnya. Paling
tepat disebut rintisan menuju tagmemik. Pada waktu itu kelengkapan spesifikasi
ciri tagmemik baru ada dua, yakni slot dan filler class saja. Dengan demikian
analisisnya masih agak sederhana. Sebagai misal, klausa “kepalan Tyson telah
mengenai rahang Spinks” dianalisis sebagai S:NP + P:VP + O:NP. Ahli bahasa yang
terlibat pada generasi pertama, antara lain, adalah B. Elsen (1962), V. Pickett
(1962), R.E. Longacre (1964), Walter A. Cook (1969, 1970, 1971).
Teori tagmemik mencapai kesempurnaannya pada generasi
kedua. Pasangan Kenneth L.Pike dan Evelyn G.Pike memerlukan waktu sepuluh tahun
untuk melahirkan buku Grammatical Analysis. Untuk selanjutnya yang akan dipakai
acuan teori tagmemik adalah versi “Grammatical Analysis” ini.
Salah
satu tempat yang dipakai untuk uji coba teori ini adalah di Indonesia, yakni di
daerah Irian Jaya tepatnya di Danau Bira (1976). Ciri tagmem pun ditemukan
tidak lagi hanya mencakup dua dimensi, melainkan terdiri dari atas empat
dimensi, yakni slot, class, role, dan cohesion.
Aliran
tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike, seorang tokoh dari Summer
Institute Of Linguistics, yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfield,
sehingga aliran ini juga bersifat strukturalis, tetapi juga antroplogis.
Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem (Kata ini berasal
dari bahasa Yunani) yang berarti ‘susunan’.
Yang
dimaksud dengan tagmem adalah korelasi antara fungsi Gramatikal atau slot
dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk
mengisi slot tersebut. Misalnya, dalam kalimat Pena itu berada di atas meja;
bentuk Pena itu mengisi fungsi subjek, dan tagmem subjeknya
dinyatakan dengan pena itu. Menurut Pike satuan dasar sintaksis tidak dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsi
saja, seperti Subjek + Predikat + Objek; dan tidak dapat dinyatakan
dengan deretan bentuk-bentuk saja, seperti Frase Benda + Frase kerja + Frase
Benda, melainkan harus diungkapkan bersamaan dalam rentetan rumus seperti :
·
S:FN + P:FV +
O:FN
Rumus tersebut dibaca: Fungsi subjek diisi oleh frase nominal
diikuti oleh fungsi predikat yang diisi oleh frase verbal, dan diikuti pula
oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal.
Dalam perkembangan selanjutnya malah kedua unsure tagmem itu, yaitu
fungsi dan bentuk (Atau kategori pengisi fungsi) perlu ditambah pula dengan
unsur peran (Atau pengisi makna), dan kohesi (Keterikatan antara satuan-satuan
lingual) yang membentuk jalinan yang erat. Dengan demikian satuan dasar
sintaksis itu, yaitu tagmem, merupakan suatu sistem sel-empat kisi, yang dapat
digambarkan dengan bagan berikut ini :
|
Fungsi |
kategori |
|
Peran |
kohesi |
Dengan demikian kalau kalimat “ saya yang menulis surat dengan pinsil “
Dianalisis decara tagmemik , akan menjadi sebagai berikut:
|
S |
KG |
|
pel |
|
|
P |
KKt |
|
ak |
|
|
O |
KB |
|
tuj |
|
|
K |
FD |
|
Al |
|
Saya menulis surat dengan pensil
Keterangan :
S =
Fungsi Subjek
P =
Fungsi Predikat
O =
Fungsi Objek
K =
Fungsi Keterangan
KG = Kata Ganti
KKt =
Kata kerja transitif
KB =
Kata benda
FD =
Frase depan
pel =
Pelaku
ak =
Aktif
tuj =
Tujuan
al =
Alat
Dalam kalimat tersebut, kohesi tidak
diisi karena kohesi hanya relevan dengan bahasa-bahasa berkasus yang mempunyai
cirri-ciri khas yang menandai hubungan timbale balik antar tagmem dalam suatu
konstruksi.
1.
TOKOH-TOKOH DALAM ALIRAN
TAGMEMIK
A. Kenneth
Lee Pike
Secara
relative teori Tagmemik kini memang boleh dikatakan masih cukup baru. Kebulatan
dan kelengkapannya baru terwujud pada tahun 1977 dengan terbitnya buku “Grammatical Analysis” karangan Keneth L. Pike dan
Evelyn G. Pike. Mereka sepasang suami istri dari University of Texas at
Arlington dan sebagai direktur SIL (Summer Institusi of
Linguisticts)
1)
Generasi Pertama
Generasi
ini sebenarnya belum dapat disebut teori tagmemik yang sebenarnya.paling tepat
disebut rintisan menuju tagmemik. Pada waktu itu kelengkapan spesifikasi ciri
tagmemik baru ada dua, yakni slot dan filler class saja. Dengan demikian
analisisnya masih agak sederhana. Sebagai missal , klausa”Kepalan Tyson telah
mengenai rahang Spinks” dianalisis sebagai: S: NP+P:VP+O:NP.
Ahli
bahasa yang terlibat pada generasi pertama ini antara lain: B. Elsen (1962), V.
Pickett (1962), R.E. Longacre (1964), W.A. Cook (1969), (1970), (1971).
2)
Generasi kedua
Pada
geberasi kedua ini teori tagmemik baru mencapai kesempurnaannya. Untuk
melahirkan buku”Grammatical Analysis” Pike suami
istri memerlukan waktu sepuluh tahun. Salah satu tempat yang dipakai untuk uji
coba adalah Indonesia, yakni di daerah Irian Jaya atau lebih tepatnya di danau
Bira (1976). Ciri tagmen tidak lagi dua dimensi, melainkan empat dimensi, yakni slot, class, role, dan cohesion.
Sebenarnya Verhaar pernah
mengemukakan konsepnya tentang analisis kalimat/klausa yang senada dengan teori
tagmemik ini. Verhaar merupakan teori antara, dari tagmemik generasi pertama ke
generasi tagmemik kedua. Demikian pula, Eduard Travis (1980) telah berhasil
menganalisis makanan orang Sunda dengan menggunakan teori ini.
B.
CIRI-CIRI ALIRAN
TAGMEMIK
Ciri-ciri aliran linguistik Tagmemik antara
lain:
1) Setiap Stuktur Terdiri atas Tagmem-tagmem
Tagmem adalah bagian dari suatu konstruksi
gramatikal yang memiliki empat macam kelengkapan spesifikasi ciri yang
meliputi:
a)
Slot
Slot adalah
suatu ciri tagmen yang merupakan tempat kosong di dalam stuktur yang harus
diisi oleh fungsi tagmem. Dalam tataran klausa fungsi tagmem tersebut berupa
subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran lain umumnya fungsi tagmen
berupa inti (nucleus) dan luar inti (margin).
b)
Kelas (Class)
Kelas
merupakan ciri tagmen yang merupakan wujud nyata dari slot. Wujud nyata slot
tersebut berupa satuan-satuan lingual seperti morfem, kata, frasa, klausa,
alinea, monolog, dialog, dan wacana.
c)
Peran (Role)
Peran adalah
ciri atau benda penanda tagmen yang merupakan pembawa fungsi tagmen. Memang
agak sulit membedakan fungsi dan peran. Pelaku (actor) dan penderita
(undergoer) adalah peran. Pelaku dan penderita tersebut dapat menjadi pembawa
fungsi subjek. Dengan demikian, ada subjek dengan peran penderita.
d)
Kohesi
Kohesi
adalah ciri atau penanda tagmen yang merupakan pengontrol hubungan antartagmen.
Pengontrol hubungan yang hampir terdapat pada semua bahasa ialah kaidah
ketransitifan pada klausa yang berlaku untuk klausa transitif, klausa
intransitif, dan klausa ekuatif.
2. Bersifat Eklektik
Teori
tagmemik bersifat eklektik, yaitu merupakan perpaduan dari aneka macam teori
yang dirangkum sesuai dengan proposisi masing-masing.
3. Bersifat Universal
Teori
tagmemik bersifat universal. Keuniversalan atau kesemestaan dalam teori ini
bukan saja kesemestaan dalam arti berlaku untuk semua bahasa. Akan tetapi, juga
kesemestaan dalam arti dapat berlaku untuk semua bidang kehidupan manusia.
4. Tiga Hierarki Linguistik
Menurut
teori ini ada tiga hierarki linguistik, yaitu: (a) hierarki referensial, (b)
hirarki fonologikal, dan (c) hierarki gramatikal.
5. Tataran pada Hierarki Gramatikal
Tataran
terendah dalam hierarki gramatikal menurut teori ini adalah morfem, sedangkan
tataran tertinggi adalah wacana.
6. Slot pada Tataran Klausa
Slot pada
tataran klausa subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran kalimat tidak
ada subjek dan tidak ada pula predikat. Objek dan adjung pun sudah barang tentu
tidak ada juga. Kesemuanya itu hanyalah milik klausa, bukan milik kalimat. Slot
pada tataran kalimat berupa inti (nucleus) dan luar inti (margin) atau pokok
dan sebutan, atau topic dan comment.
7. Predikat Kata Kerja
Menurut
teori tagmemik slot predikat harus kata kerja. Selain kata kerja tidak mungkin
menduduki slot predikat.
8. Ciri Etik dan Emik
Aliran ini
mulai menegakkan eksistensi ciri -etik
dan –emik di dalam struktur. Ciri –etik adalah ciri yang tidak membedakan
struktur, sedangkan ciri –emik adalah ciri yang membedakan struktur.
9. Rumus di dalam Analisis
Di dalam
analisis selau menggunakan rumus yang rapi, rangkap, dan tuntas. Apabila
dipandang perlu dapat menggunakan diagram pohon. Akan tetapi, cara yang
terakhir kurang disukai karena kurang praktis.
10. Analisis Dimulai dari Klausa
Apabila
aliran stuktural mengawali analisisnya dari kata, teori transformasional
mengawali analisisnya dari kalimat, maka teori tagmemik mengawali analisisnya
dari tataran klausa. Dengan demikian, tataran klausa kedudukannya sangat
penting.
11. Tidak ada batas antara Morfologi dan
Sintaksis
Morfologi
dan sintaksis melebur menjadi satu hierarki, yaitu hierarki gramatikal yang
rentangan levelnya dari morfem sampai dengan wacana.
C.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ALIRAN TAGMEMIK
A. Kelebihan
Aliran Linguistik Tagmemik
1)
Aliran ini berwawasan eklektik sehingga prinsip-prinsip aliran pratagmemik
dihargai dan diperhitungkan sesuai karakteristiknya.
2)
Dengan konsep semesta, bahasa apapun dapat dianalisis dengan teori
tagmemik
3)
Level gramatikalnya sangat lengkap, dari morfem hingga wacana.
4)
Dalam pengajaran bahasa dapat digunakan dua pendekatan, yakni pendekatan
komunikatif dan pendekatan kontekstual.
5)
Fleksibilitas dalam analisis bahasa.
6)
Menempatkan subjek dan predikat pada klausa bukan pada kalimat.
7)
Mempertajam daya analisis; tidak sekedar menghafalkan prosedur dan menghafalkan
simpulan.
B. Kekurangan
Aliran Linguistik Tagmemik
1)
Tidak tampak kekhasan karena eklektik.
2)
Terjadi ketidakaturan pada hierarki gramatikal dalam kasus bahasa bertipologi
aglutinatif.
3)
Pada masyarakat konservatif prediket harus kata kerja dan tidak ada istilah
nominal belum berterima di semua msyarakat.
4)
Analisis menggunakan rumus-rumus rumit.
5)
Jika diterapkan dalam pembelajaran, khususnya paragraf, akan sulit
menganalis struktur bahasanya.
6)
Sebagai aliran yang bersifat eklektik, namun tidak terdapat cakupan mentalistik
yang digunakan dalam memahami sebuah perilaku bahasa.
D. ANALISIS
PENERAPAN TAGMEMIK
Analisis tagmemik menggunakan
rumus-rumus dengan singkatan istilah dan singkatan yang dipergunakan bebas
dengan sifat konsisten (Soeparno, 2008:29). Rumus yang dipergunakan dibuat
serapi, selengkap, dan setuntas mungkin. Rumus
mencakup slot, peran, kohesi, dan kohesi. Tahapan analisis
dilakukan melalui tahap-tahap 1) pengumpulan data, 2) klasifikasi
data berdasarkan tipe dan jenis disertai penyusunan
peta kerja, 3) diagram pohon,
4) pembuatan rumus utama, 5) penyusunan rumus bawahan, 6) pembacaan rumus dan 8) identifikasi klas morfem.
Analisis penerapan tagmemik adalah sebagai
berikut.
a) Pengumpulan
data, yakni klausa “Sebuah candi ditemukan di Nganjuk.”
b) Klasifikasi
data berdasarkan tipe dan jenis disertai penyusunan peta kerja adalah
sebagai berikut
|
NUC
(IN) |
MAR (LIN) |
||
|
SLOT |
S |
P |
K |
|
PERAN |
Plk |
Sta |
Pelgkp |
|
Sebuah Candi |
ditemukan |
di Nganjuk |
|
|
KLAS |
FB |
FK |
F Eks |
|
KOHESI |
- |
T |
|
|
STA |
STA |
||
c) Diagram pohon dengan
kalimat “Sebuah candi ditemukan di Nganjuk”
d) Penyusunan Rumus utama
Rumus itu dibaca:
Klausa intransitif terdiri
atas tagmen subjek bersifat wajib dengan peran pelaku (Plk) yang diisi oleh kata
benda, tagmen predikat wajib dengan peran statemen (Sta) yang disis oleh kata kerja, dan tagmen keterangan bersifat
wajib dengan peran pelengkap (Pel) yang diisi
oleh frase eksosentrik.
a. Penyusunan Rumus Bawahan
Rumus itu dibaca
: Frase benda terdiri atas tagmem, yakni tagmem inti
(In) bersifat wajib (t) dengan peran item yang diisi oleh kata benda
Rumus
itu dibaca : kata kerja terdiri atas tagmem, yakni tagmem inti (In)
dengan peran pembentuk kerja yang diisi oleh konfiks
(konf)
Rumus
itu dibaca : Frase presuposisi terdiri atas tagmem luar inti
bersifat opsional dengan peran aspek pembentuk ketereangan yang diisi
oleh morfem preposisi
b. Identifikasi kelas kata
atau morfem
|
KB |
MK |
Konf: |
Preposisi |
|
Sebuah |
temu |
di-kan |
di- |
|
Candi |
|||
|
Nganjuk |
|||





Comments
Post a Comment